Kamis, 23 Juni 2011

MANAJEMEN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN SEKOLAH

PENDIDIKAN DAN PELATIHAN









MANAJEMEN PERAN SERTA MASYARAKAT
DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN SEKOLAH













DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN
DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
TAHUN 2007

PENGANTAR

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu: Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial. Dalam rangka pembinaan kompetensi calon kepala sekolah dan kepala sekolah untuk menguasai lima dimensi kompetensi tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya menyusun naskah materi diklat pembinaan kompetensi untuk calon kepala sekolah dan kepala sekolah.
Naskah materi diklat pembinaan kompetensi ini disusun bertujuan untuk memberikan acuan bagi stakeholder di daerah dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah/kepala sekolah agar dapat dihasilkan standar lulusan diklat yang sama di setiap daerah.
Kami mengucapkan terimakasih kepada tim penyusun materi diklat pembinaan kompetensi calon kepala sekolah/kepala sekolah ini atas dedikasi dan kerja kerasnya sehingga naskah ini dapat diselesaikan.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam meningkatkan mutu tenaga kependidikan.


Jakarta, November 2007
Direktur Tenaga Kependidikan


Surya Dharma, MPA, Ph.D
NIP. 130 783 511

DAFTAR ISI

PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
DAFTAR GAMBAR iv

BAB I P E N D A H U L U A N 1
A. Latar Belakang 1
B. Dimensi Kompetensi 2
C. Kompetensi 2
D. Indikator Pencapaian Kompetensi 3
E. Alokasi Waktu 3
F. Skenario Diklat 3

BAB II FUNGSI UMUM PENDIDIKAN DAN SEKOLAH 5
A. Pendidikan Dan Sekolah 5
B. Keluarga Sebagai Medium Proses Sosialisasi 15

BAB III MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN 25
A. Mengapa Pendidikan Memerlukan Masyarakat 25
B. Perlunya Pengelolaan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 27

BAB IV KONSEP DASAR MANAJEMEN PERAN SERTA MASYARAKAT 33
A. Pengertian 33
B. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 45
C. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat 42
D. Prosedur Pelaksanaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat 38

BAB V TEKNIK DAN BENTUK HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT 52
A. Teknik Hubungan Sekolah dan Masyarakat 52
B. Bentuk-bentuk Partisipasi Orang Tua Murid/ Masyarakat yang Diharapkan Oleh Sekolah (Khususnya Sekolah) 65

BAB VI MENGGALANG DUKUNGAN MASYARAKAT 77
A. Upaya Menggalang Masyarakat 77
B. Promosi Sekolah Kepada Masyarakat 79
C. Peranan Kepala Sekolah Menggalang Dukungan Masyarakat 82
D. Penyusunan Program Peran Serta Masyarakat. 89
BAB VII MODEL PELIBATAN MASYARAKAT 101
A. Melalui Komite Sekolah 101
B. Kerjasama dengan Pemerintah/Masyarakat Secara Umum 102
C. Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat Terorganisasi 104

LEMBAR TUGAS 107
DAFTAR PUSTAKA 109


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Diagram Skenario Diklat 4
Gambar 2.1 Proses sosialisasi anak dalam keluarga dan masyarakat 18


BAB I
P E N D A H U L U A N

A. Latar belakang
Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang sangat ketat dalam semua aspek kehidupan, memberi warna/pengaruh terhadap tuntutan akan kualitas sumber daya manusia, termasuk sumber daya tenaga pendidik dan kependidikan sebagai unsur yang mempunyai posisi sentral dan strategis dalam pembentukan SDM berkualitas. Kondisi tersebut diiringi dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan demokratisasi pendidikan, akuntabilitas, tuntutan kualitas serta jaminan mutu dari dunia kerja. Kondisi tersebut di atas mensyaratkan sekolah dan tenaga pendidik dan kependidikan untuk memiliki kualitas yang andal dan sebagai jaminan mutu hasil proses pendidikan yang dilakukan. Seiring dengan berbagai tuntutan kualitas tersebut pemerintah telah melahirkan berbagai peraturan perundangan yang pada dasarnya memberikan jaminan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan.
Berbagai upaya peningkatan mutu telah banyak dilakukan, tetapi pendidikan masih dihadapkan kepada berbagai permasalahan antara lain yang paling krusial adalah rendahnya mutu pendidikan. Dari berbagai kajian, ternyata salah satu faktor penyebabnya antara lain adalah: minimnya peran serta masyarakat dalam menentukan kebijakan sekolah sebagai akibat masyarakat kurang merasa memiliki, kurang tanggung jawab dalam memelihara dan membina sekolah dimana anak-anaknya bersekolah. Padahal apabila dikaji lebih lanjut beberapa komponen penentu peningkatan mutu sekolah antara lain adalah manajemen pemberdayaan masyarakat. Untuk itulah salah satu kebijakan dalam peningkatan manajemen sekolah adalah implementasi manajemen berbasis sekolah. Pendekatan ini sangat memerlukan partisipasi yang tinggi dari masyarakat, baik yang terwadahkan dalam komite sekolah, dewan pendidikan maupun masyarakat secara umum.
Keberhasilan penerapan manajemen berbasis sekolah tersebut sangat tergantung pada kemampuan kepala sekolah untuk dapat berperan secara aktif dalam pengelolaan sekolah dengan memberdayakan semua komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan sekolah, khususnya dalam memberdayakan masyarakat secara keseluruhan. Ini berarti kompetensi kepala sekolah dalam pemberdayaan masyarakat perlu mendapat perhatian untuk ditingkatkan secara terus-menerus.
Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor:13 tahun 2007, menegaskan bahwa salah satu indikator kompetensi kepala sekolah adalah kemampuan dalam manajemen pemberdayaan masyarakat. Kompetensi ini menjadi sangat penting dalam era otonomi sekarang ini.
B. Dimensi Kompetensi
Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir Diklat ini adalah dimensi Kompetensi Managerial.
C. Kompetensi
Kompetensi yang ingin dicapai untuk dimiliki oleh peserta pendidikan dan pelatihan kepala sekolah untuk materi manajemen peran serta masyarakat dalam pengembangan pendidikan persekolahan adalah: mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar dan pembiayaan sekolah/madrasah.
D. Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator pencapaian hasil diklat hubungan sekolah dengan masyarakat ini adalah:
1. Mengetahui fungsi umum pendidikan dan sekolah.
2. Hubungan masyarakat dan pendidikan.
3. Mengetahui konsep dasar manajemen peran serta masyarakat.
4. Menjelaskan tehnik dan bentuk hubungan sekolah dengan masyarakat.
5. Mengetahui upaya menggalang dukungan masyarakat.
6. Mengetahui model melibatkan masyarakat.
E. Alokasi Waktu
Alokasi waktu Diklat materi ini adalah 4 (empat) hari @ 10 Jam atau 40 jam tataran @ 45 menit.
F. Skenario Diklat
Pendidikan dan pelatihan ini diselenggarakan dengan pendekatan andragogi (pendidikan orang dewasa). Kreativitas dan keaktifan peserta ditumbuh kembangkan selama proses pendidikan dan pelatihan berlangsung. Metode dan pendekatan pembelajaran yang akomodatif terhadap pemberian fasilitasi kepada peserta untuk merefleksikan pengalamannya digunakan dalam pendidikan dan pelatihan ini, di antaranya metode diskusi kelompok terfokus (focus group discussion, FGD), simulasi, refleksi diri dan praktek lapangan.

Secara tentatif (dapat dikembangkan lebih lanjut oleh Fasilitator Diklat)
















Gambar 1.1 Diagram Skenario Diklat





BAB II
FUNGSI UMUM PENDIDIKAN DAN SEKOLAH

A. Pendidikan dan Sekolah
Pendidikan pada dasarnya adalah upaya yang dilakukan secara sadar untuk mendewasakan peserta didik, yang ditandai oleh adanya kemandirian dari diri peserta didik. Kemandirian yang dimaksudkan disini adalah kemampuan mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri tanpa harus selalu tergantung pada orang lain. Kemandirian peserta didik dapat dilihat dari beberapa indikator:

1. Adanya sifat kestabilan dan kemantapan
Kestabilan ini mencakup kestabilan dalam tingkah laku, pandangan hidup dan kestabilan dalam nilai-nilai yang dianut. Kestabilan dalam perilaku berarti seseorang yang segala perbuatannya, tingkah lakunya senantgiasa berdasarkan atas suatu rencana yang telah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang. Artinya peserta didik yang memiliki kestabilan adalah mereka yang selalu berupaya memikirkan secara matang untung dan rugi, apa kaitannya dengan nilai-nilai yang di masyarakat sebelum dia berperilaku atau mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya di masyarakat.
Kestabilan disini bukanlah dalam pengertian kaku (tidak dapat diubah-ubah) tetapi kestabilan yang dinamis dalam arti perilaku dapat berubah meskipun sudah direncanakan, tetapi perubahan ini didasarkan pertimbangan-pertimbangan yang sangat rasional. Dengan kata lain terjadinya perubahan terhadap suatu keputusan yang telah diambil seseorang atas dasar pemikiran yang matang juga berarti suatu kematapan dalam keputusan.
Kestabilan dalam pandangan hidup berarti bahwa dengan kesadaran dan keyakinan seseorang telah menganut suatu pandangan hidup/keagamaan tertentu secara utuh dengan tidak mudah tergoyahkan oleh factor apapun.
Kestabilan dalam nilai-nilai yaitu segala perbuatan/perilaku dan sikapnya selalu didasarkan kepada nilai-nilai kehidupan/kemasyarakatan serta nilai-nilai dalam berbangsa dan bernegara.

2. Adanya sikap tanggung jawab
Sikap tanggung jawab mencakup tiga hal pokok yaitu tanggung jawab individu, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab susila.
Tangung jawab individu berarti seorang yang berani berbuat, berani bertanggung jawab tentang segala resiko dari perbuatannya. Menolak tanggung jawab dengan alasan yang benar dan dianggap benar oleh semua orang juga berarti bertanggung jawab.
Tanggung jawab sosial berarti bahwa semua perbuatan yang dilakukan seseorang harus sudah dipikirkan akibat-akibatnya atau untung ruginya bagi orang lain, masyarakat dan lingkungannya.
Tanggung jawab susila berarti bahwa perbuatan seseorang harus sesuai dengan norma-norma susila, moral dan etika. Oleh sebab itu segala perilakukan harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan etika. Karena itu pendidikan pada dasarnya juga harus membentuk nilai moral dan ettika kepada peserta didik untuk dapat mempersiapkan ekemandirian dan kemampuan bertanggung jawab secara moral.
3. Adanya sifat mandiri
Mandiri berarti bahwa segala perbuatan yang dilakukan seseorang adalah atas dasar pilihannya sendiri, ditentukan dan diputuskan atas kemauan sendiri dengan pertimbangan yang matang. Apa yang dipilih, ditentukan dan diperbuat memang diputuskan atas dorongan dari dalam diri sendiri bukan karena desakan atau paksaan orang lain. Keputusan yang diambil berdasarkan masukan/saran-saran dari sejumlah orang juga berarti keputusannya sendiri, sejauh saran dan masukan dari olrang lain tersebut hanya manjadi bahan untuk memikirkan dan mempertimbangkan keputusan yang terbaik menurut dirinya sendiri, tanpa menggantungkan harapan kepada orang lain.
Mandiri secara ekonomi berarti bahwa seseorang yang mengaku dirinya dewasa maka ia sudah memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, membiayai kehidupannya atas dasar usahanya sendiri, bukan karena meminta atau disokong (support) oleh orang lain. Usaha sendiri bukan berartri tidak boleh bekerja pada orang lain.
Dengan demikian berarti pendidikan dapat pula dipandang sebagai suatu lembaga yang melakukan kegiatan dalam rangka mendewasakan manusia melakukan berbagai aktivitas mendidik dalam wujud pemberian pengalaman-pengalaman belajar, berlatih dan melakukan berbagai kegiatan kepada semua peserta didik (manusia yang belum dewasa). Pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan-kegiatan pendidikan adalah merupakan gejala yang bersifat universal dari suatu masyarakat. Isi dan corak dari pengalaman-pengalaman pendidikan tersebut sangat bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, nilai, keyakinan, filosofi yang berbeda. Sifat-sifat universal dari pengalaman-pengalaman pendidikan dapat memberikan kontribusi pengembangan masyarakat dan kebutuhan bagi semua masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai warisan budayanya, dan menanamkan terhadap generasi muda nilai-nilai luhur budaya, cita-cita, kebiasaan-kebiasaan, dan standar perilaku dari budaya masyarakatnya.
Pendidikan sebagai suatu wahana untuk mendewasakan manusia lainnya dilakukan dalam suatu proses. Proses dimana anak belajar mengenal cara hidup dan berperilaku, kebiasaan-kebiasaan serta nilai-nilai budaya masyarakat yang disebut sebagai proses enkulturasi. Pada waktu yang sama semua anggota masyarakat harus belajar bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Suatu proses dimana generasi muda belajar terhadap nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan baru tersebut disebut alkulturasi. Dua proses enkulturasi dan alkulturasi tersebut berjalan seiring, berkesinambungan dan saling pengaruh mempengaruhi, sampai pada akhirnya masyarakat merasa memiliki kemantapan nilai-nilai tertentu yang diyakininya sebagai nilai yang dapat membawa kebaikan bagi kehidupannya. Semua orang di dalam masyarakat harus mengadaptasi pola-pola perilaku dan sistem nilai serta cara berfikir yang sudah mantap. Akan tetapi dalam kenyataannya sistem nilai, pola perilaku dan cara-cara berfikir tersebut juga mengalami perubahan, seiring dengan perubahan budaya baik sebagai akibat masuknya budaya lain maupun sebagai akibat kemajuan budaya masyarakat setempat akibat proses pendidikan itu sendiri. Kegagalan seseorang individu yang berada dalam suatu lingkungan untuk mengadaptasi nilai-nilai baru yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya dapat mengakibatkan resiko konflik dan mungkin stagnasi, bahkan seseorang dapat terisolasi dari lingkungan masyarakat dimana dia berada apabila dia gagal dalam mengadaptasi diri. Oleh karena itu pendidikan berfungsi pula untuk mempersiapkan peserta didik kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Sehingga sekolah secara kelembagaan tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya dalam pembentukan anak secara utuh.
Ini berarti kegagalan dalam beradaptasi merupakan ancaman bagi eksistensi seorang individu dalam lingkungan dimana dia berada, agar mereka tidak mengalami kegagalan tersebutlah sekolah berperan membantu memfasilitas anak. Tingkat dan intensitas terjadinya modifikasi-modifikasi tersebut sangat bervariasi antar sistem budaya masyarakat yang satu dengan sistem budaya masyarakat yang lain. Akan tetapi secara umum, tanpa memandang tingkat kemajuan masyarakat, apakah masyarakat tersebut berpendidikan atau tidak, masyarakat pra-industri atau masyarakat industri, masyarakat tradisional ataupun masyarakat yang telah maju, proses-proses pembudayaan melalui proses sosialisasi dan edukasi dari generasi muda, selalu terjadi dan pasti menghadapi masalah-masalah. Berbagai permasalahan dalam proses adaptasi tersebut menjadi kewajiban orang tua, sekolah dan masyarakat untuk memfasilitasinya.
Pembicaraan tentang kebudayaan dan sekolah sering membatasi penggunaan istilah edukasi dan sosialisasi. Edukasi sering dihubungkan dengan belajar dalam sekolah formal, sedang sosialisasi dianggap suatu konsep yang memiliki makna yang lebih luas, yaitu meliputi segala hal yang berhubungan dengan upaya belajar untuk menyesuaikan dan mengadopsi nilai-nilai baru. Meskipun sebenarnya edukasi dan sosialisasi keduanya bermuara pada tujuan akhir pendewasaan seseorang. Adakalanya seseorang dapat beradaptasi terhadap nilai baru sebagai akibat dari keikutsertaannya dalam pencarian informasi melalui sosialisasi. Dengan demikian sosialisasi pada dasarnya merupakan salah satu cara dalam proses edukasi.
Tumbuh dan berkembangnya budaya masyarakat dapat terbentuk melalui kedua proses tersebut, yaitu proses sosialisasi dan edukasi, walau proses-proses tersebut tidak dapat diabstraksikan dari cakupan budaya dan struktur sosial, agaknya aspek-aspek tersebut dapat dimengerti sebagai bagian dari aspek kebudayaan.
Proses pendidikan secara formal dilakukan melalui system persekolahan, pada umumnya dipandang sebagai proses terbuka. Proses pendidikan secara formal ini bersifat terbuka sehingga dapat diketahui dan terlihat oleh siapapun, dan diorganisasi secara baik, mulai dari pengaturan peserta didik sampai pada pengaturan kapan seseorang harus belajar dan apa yang harus dipelajari pada waktu tertentu sampai pada pengaturan system penilaian sebagai bukti terjadinya perubahan pada diri individu sebagai akibat proses pendidikan. Akan tetapi baik edukasi maupun sosialisasi juga dapat terjadi secara informal dan bersifat tertutup, dan bahkan sebagian tidak disadari oleh individu yang bersangkutan.
Dalam beberapa masyarakat, misalnya pada kelompok-kelompok masyarakat tribal, terutama di negara-negara sedang berkembang dari Dunia Ketiga, proses edukasi dan sosialisasi dari generasi muda berlangsung tidak selalu melalui prosedur dan jalur belajar formal yang ekstensif. Namun demikian proses “schooling” atau persekolahan sebenarnya selalu terjadi dimana-mana, dan masyarakat sukar menghindari diri dari proses belajar mengajar formal tersebut, baik di dalam masyarakat di desa-desa, masyarakat yang hidup di padang pasir, masyarakat di lereng-lereng gunung, semuanya sekarang pasti telah dijamah oleh proses “schooling” tersebut. Sifat universal dari sekolah-sekolah dan proses schooling tersebut dapat digolongkan menjadi enam golongan besar :
1. Sekolah-sekolah yang memberikan dasar-dasar pengetahuan untuk menyadari dirinya sebagai warga masyarakat dan warga negara. Sekolah-sekolah ini meliputi pendidikan tingkat kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah lanjutan.
2. Sekolah-sekolah yang memberikan pengetahuan tingkat lanjut di perguruan tinggi, yang memberikan pendidikan dan latihan spesialis.
3. Sekolah-sekolah yang berorientasi pada pendidikan keagamaan.
4. Sekolah-sekolah yang menyiapkan generasi muda menjadi militer.
5. Sekolah-sekolah kejuruan yang berorientasi pada kerja, dan
6. Sekolah-sekolah dalam bentuknya yang lain misalnya sekolah yang dipersiapkan untuk menyebarluaskan pengetahuan tertentu, misalnya sekolah untuk kepentingan indoktrinasi, sekolah untuk menyiapkan guru-guru agama, dan sekolah-sekolah untuk mempersiapkan tenaga-tenaga profesional lainnya (Chesler and Cave, 1981:2)

Proses dari persekolahan bukan merupakan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Sekolah-sekolah seperti itu sejak lama telah dipersiapkan oleh masyarakat, dan dimaksudkan untuk melestarikan warisan budaya masyarakat, serta berfungsi untuk melangsungkan proses memajukan masyarakat. Lebih jelasnya tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan dimanapun proses pendidikan itu berlangsung (melalui persekolahan atau diluar persekolahan) adalah untuk menghasilkan orang-orang agar mereka mengenal dan menyadari dirinya serta bertanggungjawab untuk menyempurnakan/mengembangkan masyarakatnya atau dengan kata lain mendewasakan manusia yang ditandai oleh indikator: bertanggung jawab, mandiri, tidak tergantung atau selalu menggantungkan diri kepada orang lain, berani mengambil keputusan terbaik untuk dirinya dan masyarakatnya serta menanggung resiko dari keputusan yang diambilnya.
Munculnya sekolah-sekolah formal sebagai konsekuensi dari perkembangan masyarakat, dan kompleksnya tatanan sosial yang ada, serta untuk merespon kebutuhan bagi upaya melestarikan warisan budaya, kontrol sosial dan untuk memajukan masyarakat yang bersangkutan. Kemunculan sekolah ini pada awalnya didasarkan pada kenyataan bahwa pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan keluarga oleh orang dewasa di sekitar keluarga, tidak mampu lagi berperan mempersiapkan anggota keluarganya secara intensif dalam memberikan pengalaman belajar untuk menghadapi berbagai kemajuan dan kompleksitas kehidupan dan tatanan sosial budaya yang berkembang secara cepat.
Bagi orang-orang/masyarakat yang menempatkan permikiran pada orientasi edukasi, untuk memajukan masyarakat, tidak menginginkan perubahan-perubahan masyarakat secara radikal, apalagi dengan jalan berontak atau kekerasan untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap institusi dan struktur sosial yang ada. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya kelembagaan pendidikan itu pada hakekatnya merupakan lembaga konservatif, yang berfungsi untuk mempertahankan dan mewariskan budaya sambil berusaha mengembangkan budaya bagi kesejahteraan masyarakatanya. Titik tolak atau sentral segala upaya dalam pengembangan budaya yang dilakukan melalui proses persekolahan ataiu proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah memajukan kehidupan masyarakat, meningkatkan kualitas kehidupan warga masyarakat atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengertian yang utuh, yaitu sejahtera dalam arti lahir dan sejahtera dalam arti bathin. Dengan demikian orientasinya bukan semata pada aspek materialistis tetapi juga aspek psikologis dan spritualistis. Oleh sebab itulah maka sekolah dimanapun, dalam kondisi apapun sebagai sekolah tidak dapat dipisahkan dengan masyarakatnya. Mestinya dia tumbuh dan berkembang dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Pada sisi lain sekolah dihadapkan pada kenyataan perkembangan budaya masyarakat yang sangat cepat, perubahan-perubahan yang tejadi terhadap berbagai aspek-aspek budaya dan masyarakat yang begitu cepat menjadikan sekolah mempunyai misi sebagai alat untuk melakukan perubahan-perubahan (agent of change), sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Sekolah berfungsi sebagai alat untuk mengintrodusir nilai-nilai baru yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat tanpa meninggalkan nilai lama yang perlu dipertahankan agar dapat diadopsi oleh masyarakat, demi mengadaptasi perkembangan teknologi dan pengetahuan, yang pada akhirnya sebenarnya bertujuan agar kehidupan masyarakat lebih berkualitas.
Jadi tidak mungkin kita berfikir dan memfungsikan sekolah hanya sebagai alat untuk melestarikan kebiasaan-kebiasaan dan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakat serta sebagai alat untuk mentransmisikan warisan-warisan budaya masyarakat semata-mata, karena masyarakat akan tertingal dari budaya yang terus menerus berkembang, lebih-lebih pada masa sekarang perkembangan budaya masyarakat jauh lebih cepat dari apa yang dapat dilakukan oleh sekolah. Bersamaan dengan proses pelestarian tersebut, sekolah harus dipandang sebagai agen pembaharuan serta kekuatan yang mampu menciptakan kondisi-kondisi untuk melakukan perubahan-perubahan kearah peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian dalam pembicaraan mengenai sekolah ini kita dihadapkan dua kepentingan atau tujuan pokok, yaitu: melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan untuk mempersiapkan anak didik agar dapat mengantisipasi masa depan tanpa harus meninggalkan budaya dan nilai yang sudah menjadi karakteristik masyarakat. Jadi sekolah disatu pihak dapat dipandang sebagai lembaga konservasi nilai-nilai masa lampau dan kedua sebagai agent untuk melakukan perubahan.
Kepentingan tersebut di atas tidak perlu dianggap sebagai asumsi yang harus dipertentangkan, akan tetapi harus ditempatkan di dalam suatu kontinum, yang akan memberi kesempatan kepada pengambil kebijakan, untuk mengambil pilihan-pilihan yang diinginkan, atas pertimbangan-pertimbangan situasi, tempat dan kepentingan tertentu.
Dari uraian-uraian tersebut di atas, nampak bahwa pembicaraan tentang persekolahan tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang masyarakatnya, sebab sekolah diciptakan sebagai lembaga yang berperan dalam mengembangkan masyarakat kearah kemajuan, berkualitas dan sejahtera. Oleh sebab itu sangat tepat kalau tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berpusat pada tiga lembaga yaitu : keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lembaga tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dalam proses pembentukan masyarakat yang berkualitas

B. Keluarga sebagai Medium Proses Sosialisasi
Pada umumnya para ahli sosiologi menyatakan bahwa proses sosialisasi pertama dan utama serta mekanisme kunci dari proses sosialisasi di dalam semua kebudayaan masyarakat manusia adalah sosialisasi di lignkungan keluarga. Dari keluarga, hal-hal yang berhubungan dengan transformasi anak untuk menjadi anggota masyarakat dilakukan melalui hubungan perkawinan. Di dalam keluarga terjadi sistem interaksi yang intim dan berlangsung lama. Keluarga merupakan kelompok primer yang ditandai oleh loyalitas pribadi, cinta kasih, dan hubungan intim penuh kasih sayang diantara anggota kelompok keluarganya masing-masing. Dalam keluarga, anak memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang dari insting-insting biogenetik yang primitif untuk belajar terhadap respons-respons sosial. Di dalam keluarga anak belajar melakukan interaksi sosial yang pertama serta mulai mengenal tentang perilaku-perilaku yang diperankan oleh orang lain di lingkungannya. Dengan perkataan lain, pengenalan tentang nilai-nilai budaya masyarakat dimulai dari lingkungan keluarga. Di sini anak juga belajar tentang keunikan pribadi seseorang, dan sifat-sifat kelompok sosial di sekitarnya.
Hampir di semua masyarakat, keluarga dikenal sebagai unit sosial dimana anak mulai memperoleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Karena itu lingkungan keluarga merupakan wadah bagi anak-anak dan anggota keluarga untuk mengenal hubungan-hubungan prokreasi dan kreasi secara syah dan dibenarkan serta diyakini. Di dalam suatu masyarakat, keluarga inti men-jalankan fungsi yang sebenarnya dari masyarakat, sementara pada masyarakat lain, pola-pola kekerabatan memegang fungsi utama dalam membudayakan generasi muda.
Dalam kasus lain, keluarga sering menjalankan fungsi sebagai perantara antara budaya lokal dan unit sosial, dimana nilai-nilai budaya mulai ditanamkan dari generasi tua kepada generasi muda.
Keluarga juga menjalankan fungsi-fungsi pendidikan politik, dimana keluarga membantu mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan-kemampuan untuk hidup berkelompok dalam struktur kelompok yang mulai mengenal pembagian kekuasaan secara sederhana. Di dalam keluarga anak mengenal proses pengambilan keputusan, kepatuhan terhadap penguasa dan ketaatan untuk menjalankan aturan-aturan yang berlaku. Karena di dalam keluarga sebagai unit sosial terkecil, terjadi fungsi-fungsi pengambilan keputusan, maka keluarga merupakan sistem politik pada tingkat mikro. Di dalam keluarga, anak pertama kali belajar mengenai pola-pola kekuasaan, bagaimana kekuasaan terbagi, serta jaringan-jaringan hubungan kekuasaan berlangsung. Di sini anak mulai mengenal mengapa ayah/ibu memiliki power yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lebih tua, serta bagaimana pembagian kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, antara yang muda dengan yang lebih tua, antara ayah dan ibu, dan antara anak-anak dengan orang tua. Sifat-sifat kepatuhan anak di dalam keluarga akan dibawa dalam kepatuhan di sekolah dan di masyarakat. Demikia juga sifat-sifat suka memberontak, kebiasaan melawan dan tidak disiplin di dalam keluarga, juga akan mempengaruhinya dalam kehidupan di sekolah dan di masyarakat.
Di samping keluarga memiliki fungsi politik, keluarga juga memiliki fungsi ekonomi, yaitu fungsi-fungsi yang berhubungan dengan proses-proses mem-produksi dan mengkonsumsi tentang barang-barang dan jasa. Di dalam siklus hubungan intim di dalam keluarga, anak-anak belajar mengenai sikap-sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memainkan peranan dalam kegiatan produksi dan konsumsi, barang dan jasa. Setiap keluarga mengadopsi pembagian tugas yang merupakan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh keluarga. Di dalam keluarga juga ditemukan tentang nilai-nilai kerja, peng-hargaan tentang kerja dan hubungan antara kerja dan imbalan-imbalan yang dianggap layak.
Peranan keluarga bukan saja berupa peranan-peranan yang bersifat intern antara orang tua dan anak, serta anak yang satu dengan anak yang lain. Keluarga juga merupakan medium untuk menghubungkan kehidupan anak dengan kehidupan di masyarakat, dengan kelompok-kelompok sepermainan, lembaga-lembaga sosial seperti lembaga agama, sekolah dan masyarakat yang lebih luas. Setelah anak memiliki pergaulan dan pengalaman-pengalaman yang luas di dalam kehidupan masyarakatnya, sering pengaruh orang-orang dewasa di sekitarnya lebih mempengaruhi dan membentuk perilakunya dibandingkan dengan pengaruh dari keluarga. Dalam situasi semacam itu tidak jarang akan terjadi konflik di dalam diri anak. Pola perilaku manakah yang kemudian diadopsi untuk dijadikan pola anutan. Bagaimana jaringan-jaringan proses sosialisasi anak di dalam keluarga dan masyarakat tersebut dapat disederhanakan melalui gambar 2.1. berikut :

















Gambar 2.1. Proses sosialisasi anak dalam keluarga dan masyarakat

Mengingat pentingnya peranan keluarga dalam pembentukan sikap budaya anak, maka sekolah perlu menjalin kerjasama yang erat dengan keluarga, sehingga dapat secara bersama-sama dalam satu persepsi, sikap dan tindakan untuk berupaya menyiapkan anak didik untuk siap menghadapi tantangan masa depan melalui proses persekolah.
Pendidikan memiliki fungsi-fungsi secara rinci dapat dilihat pada uraian berikut ini.


1. Memindahkan Nilai-nilai Budaya
Dalam hubungannya dengan nilai-nilai budaya, pendidikan dapat dirumuskan sebagai proses kegiatan yang direncanakan untuk memindahkan pengetahuan, sikap dan nilai-nilai serta kemampuan-kemampuan mental lainnya dari satu generasi yang lebih muda. Kebudayaan pada dasarnya mencakup pandangan-pandangan, sistem keyakinan, cita-cita serta harapan-harapan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, nilai-nilai, system perilaku, system symbol dan lain sebagainya. Dalam proses interaksi antara guru dan siswa, siswa akan memperoleh nilai-nilai budaya tersebut, di mana kemudian sebagian besar akan tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.

2. Nilai-nilai Pengajaran
Fungsi mengenai nilai-nilai pengajaran berhubungan dengan kontrol sosial. Sekolah merupakan tempat di mana siswa mengalami proses sosialisasi, dan mempengaruhi anak untuk menyatu (conform) dengan norma-norma yang berlaku. Selama dalam tahun-tahun pertama anak memasuki sekolah, sekolah lebih menekankan pentingnya fungsi kontrol sosial dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Pada tahun-tahun pertama tersebut anak diajarkan mengenai bagaimana harus mengikuti instruksi-instruksi dari gurunya, tunduk dan patuh pada pemerintah dan disiplin yang diberikan oleh gurunya, misalnya harus mengacungkan tangannya lebih dahulu sebelum mengangkat bicara, mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan jadwal yang lebih ditetapkan. Sekolah mengajarkan nilai-nilai baru yang dalam banyak hal mungkin sekali terdapat perberbedaan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga atau dalam masyarakat lingkungan sekitar anak berada. Sistem nilai di dalam keluarga lebih bersifat askripsi dan partikulasi. Orang tua menyayangi dan mencintai anaknya, bukan karena melakukan tugas dan kewajiban, akan tetapi karena hubungan orang tua – anak, “parent love their children because of who they are, not because of what they have done” (Metta Spencer : 365). Sistem nilai ini mungkin saja kurang sesuai dengan system nilai yang dikembangkan oleh sekolah, misalnya dalam keadaan anak terlalu disayangi oleh orang tuanya sehingga terkesan over protektif yang menyebabkan pembentukan kemandirian yang dikehendaki sekolah tidak optimal. Dalam kondisi demikian sekolah perlu melakukan perubahan system nilai dengan pendekatan cultural, sehingga perubahan yang dikehendaki sekolah akan berjalan secara alamiah dan tidak menimbulkan konfrontasi antara sekolah dengan masyarakat.

3. Peningkatan Mobilitas Sosial
Peningkatan mobilitas sosial merupakan hal yang dianggap penting dari fungsi pendidikan. Pendidikan menyediakan kesempatan yang sama bagi anak-anak untuk maju, untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan kerja. Siapa saja yang memiliki prestasi akan mendapat kesempatan untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Pekerjaan yang layak dan kondisi-kondisi kerja yang lebih baik, terbuka bagi siapa saja yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu. Jadi walaupun semula seseorang berasal dari golongan masyarakat rendah, mereka akan memperoleh lapangan pekerjaan dengan kondisi-kondisi yang baik asal saja mereka memenuhi persyaratan yang diperlukan oleh lapangan pekerjaan tersebut. Ini berarti bahwa pendidikan dapat meningkatkan mobilitas sosial. Karena itu pendidikan harus melakukan tiga kegiatan utama dalam proses pendidikan yaitu kegiatan pendidikan, bimbingan dan pelatihan. Tanpa meninggalkan hakekat dasar proses pendidikan itu sendiri yaitu proses mendidik yang berkelanjutan.

4. Pemberian Sertifikasi
Lembaga-sekolah selalu memberikan sertifikat bagi siswa-siswanya yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dalam bentuk ijazah, diploma atau surat keterangan tanda kecakapan. Surat keterangan tersebut bernilai bagi pemiliknya karena ia akan memiliki hak-hak tertentu untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidang yang dikuasainya sebagaimana diterangkan di dalam sertifikat. Dalam masyarakat industri pekerjaan-pekerjaan hanya bagi pemegang sertifikat/diploma. Pekerjaan yang lebih baik akan direbut oleh mereka yang memiliki sertifikat tertentu, sehingga sertifikat merupakan sesuatu yang sangat berharga. Pemegang sertifikat akan memiliki prestise tertentu. Dalam masyarakat dengan sistem kompetisi dalam menentukan jenjang karier, sertifikat tersebut merupakan ukuran tertentu bagi pencari pekerjaan.
Dalam hubungannya dengan hal tersebut nampak secara jelas fungsi pendidikan sebagai persiapan kerja dan pelatihan kerja sehingga keberhasilan sekolah, sebagian dari fungsinya adalah mempersiapkan anak/pemuda untuk memperoleh pekerjaan. Dalam masyarakat yang masih sederhana, fungsi job training belum begitu terasa merupakan suatu kebutuhan, dan oleh karena itu belum banyak mendapat perhatian. Akan tetapi dalam masyarakat modern, fungsi persiapan kerja melalui latihan kerja (fungsi job training) sudah merupakan sesuatu kebutuhan yang sangat mendesak. Adanya job training dimaksudkan untuk memberikan latihan-latihan sebelumnya, sebelum seseorang mengaku pekerjaannya yang tetap. Dengan demikian berarti bahwa pendidikan berfungsi memberikan bekal pengetahuan, terutama ketrampilan-ketrampilan menjelang pekerjaan yang sebenarnya. Di dalam masyarakat modern jenis-jenis pekerjaan begitu kompleks dan rumit sehingga tamatan pendidikan formal tertentu dikhawatirkan belum dapat langsung menyesuaikan diri dan kemampuannya terhadap pekerjaan yang harus dipangkunya. Dalam kondisi inilah sekolah harus mempersiapkan kemampuan-kemampuan peserta didik untuk dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang mungkin dapat dilakukannya di masyarakat masa akan dating. Untuk itu model pembelajaran dalam rangka persiapan ini harus terkait dengan apa yang sebenarnya diperlukan oleh jenis-jenis pekerjaan di masyarakat. Ini berarti kurikulum muatan local yang didesain secara manta akan sangat membantu pembentukan peserta didik yang akrab dengan jenis pekerjaan di masyarakatnya.

5. Mengembangkan dan Memantapkan Hubungan-hubungan Sosial
Hubungan-hubungan sosial banyak dikembangkan oleh lembaga-sekolah. Walaupun anak-anak telah memperoleh pengalaman bergaul dalam lingkungan rumah/keluarga, akan tetapi aspek-aspek hubungan sosial tersebut lebih banyak terbentuk melalui kelompok-kelompok sebaya di sekolah. Di dalam kelompok-kelompok sebaya di sekolah, anak-anak selalu mengadakan interaksi secara kontinyu dalam kehidupannya sehari-hari. Melalui hubungan interpersonal antar anak, dan yang selalu diawasi oleh guru-guru mereka, anak-anak mengadakan hubungan interpersonal sehingga sifat-sifat anak akan berkembang dari sifat-sifat egois menjadi sifat-sifat menghargai pendapat kawan, sifat kerja sama, saling bantu membantu, rasa tepo seliro dan sebagainya. Berbagai bentuk organisasi siswa, seperti osis, kelompok belajar, kelompok-kelompok hobi (olah raga, kesenian), kelompok Palang Merah Pelajar, Kelompok Lalu Lintas, dan kelompok pramuka, semuanya merupakan wadah tempat dimana aspek-aspek sosial anak dapat dikembangkan.
Tumbuh kembangnya proses-proses sosialisasi di sekolah, sangat tergantung pada kesiapan sekolah merancang secara baik pola-pola interaksi yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah melalui kegiatan ekstra kurikuler. Tatapi kegiatan ekstra kurikuler yang dirancang harus tetap memperhatikan pola budaya masyarakat setempat agar tidak menimbulkan benturan budaya.

6. Membentuk Semangat kebangsaan (patriotisme)
Sekolah dalam kehidupannya sehari-hari mentransmisikan mitos, simbol-simbol kebangsaan, dan mengajarkan penghargaan terhadap para pahlawan bangsa serta peninggalan-peninggalan sejarah, semuanya tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan semangat serta loyalitas kejayaan bangsa. Sekolah mengajarkan sejarah bangsanya. Memajukan peninggalan dan monumen-monumen sejarah, hal itu dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebangsaan serta kesediaan membela tanah airnya terhadap serangan musuh.
Dalam konteks ini, maka kebudayaan di suatu daerah yang melekat bagi siswa harus dikaitkan dengan berbagai kebudayaan daerah lainnya. Artinya meskipun sekolah perlu mengembangkan budaya local, tetapi dalam konteks budaya nasional, sehingga tidak terbentuk anak yang hanya mengakui budaya daerahnya secara membabi buta. Apabila hal ini terjadi maka lambat laun akan merupakan benih-benih yang menyebabkan adanya keresahan atau benturan antar suku, antar etnis atau antar budaya tertentu. Oleh karena itu sikap mau mengakui, menghargai dan menghormati perbedaan perlu ditumbuh kembangkan oleh sekolah kepada peserta didik.























BAB III
MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN

A. Mengapa Pendidikan Memerlukan Masyarakat
Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pendidikan di sekolah dan tersedianya sarana dan prasarana saja, tetapi juga ditentukan oleh lingkungan keluarga dan atau masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah (sekolah), keluarga dan masyarakat. Ini berarti mengisyaratkan bahwa orang tua murid dan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk berpartisipasi, turut memikirkan dan memberikan bantuan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah.
Partisipasi yang tinggi dari orang tua murid dalam pendidikan di sekolah merupakan salah satu ciri dari pengelolaan sekolah yang baik, artinya sejauhmana masyarakat dapat diberdayakan dalam proses pendidikan di sekolah adalah indikator terhadap manajemen sekolah yang bersangkutan. Pemberdayaan masyarakat dalam pendidikan ini merupakan sesuatu yang esensial bagi penyelenggaraan sekolah yang baik (Kumars, 1989). Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan di sekolah ini nampaknya memberikan pengaruh yang besar bagi kemajuan sekolah, kualitas pelayanan pembelajaran di sekolah yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi belajar anak-anak di sekolah. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh Husen (1988) dalam penelitiannya bahwa siswa dapat belajar banyak karena dirangsang oleh pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru dan akan berhasil dengan baik berkat usaha orang tua mereka dalam memberikan dukungan.
Penelitian lain yang memperkuat apa yang dikemukakan di atas dinyatakan oleh Levine & Hagigust, (1988) yang menyatakan bahwa Lingkungan keluarga, cara perlakuan orang tua murid terhadap anaknya sebagai salah satu cara/bentuk partisipasi mereka dalam pendidikan dapat meningkatkan intelektual anak. Partisipasi orang tua ini sangat tergantung pada ciri dan kreativitas sekolah dalam menggunakan pendekatan kepada mereka. Artinya masyrakata akan berpartisipasi secara optimal terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah sangat tergantung pada apa dan bagaimana sekolah melakukan pendekatan dalam rangka memberdayakan mereka sebagai mitra penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Hal ini ditegaskan oleh Brownell bahwa pengetahuan masyarakat tentang program merupakan awal dari munculnya perhatian dan dukungan. Oleh sebab itu orang tua/masyarakat yang tidak mendapatkan penjelasan dan informasi dari sekolah tentang apa dan bagaimana mereka dapat membantu sekolah (lebih-lebih di daerah pedesaan) akan cenderung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, bagaimana mereka harus melakukan untuk membantu sekolah. Hal tersebut sebagai akibat ketidakmengertian mereka.
Di negara-negara maju, sekolah memang dikreasikan oleh masyarakat, sehingga mutu sekolah menjadi pusat perhatian mereka dan selalu mereka upayakan untuk dipertahankan. Hal ini dapat terjadi karena mereka sudah meyakini bahwa sekolah merupakan cara terbaik dan meyakinkan untuk membina perkembangan dan pertumbuhan anak-anak mereka. Mengingat keyakinan yang tinggi akan kemampuan sekolah dalam pembentukan anak-anak mereka dalam membangun masa depan yang baik tersebut membuat mereka berpartisipasi secara aktif dan optimal mulai dalam perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan terhadap pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah. Nampak mereka selain merasa sebagai pemilik sekolah juga sebagai penanggung jawab atas keberhasilan sekolah. Kondisi ini dapat terjadi karena kesadaran yang tinggi dari masyarakat yang bersangkutan.
Pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat akan keberhasilan pendidikan ini telah dibuktikan kebenarannya oleh Richard Wolf dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang sangat signifikan (0.80) antara lingkungan keluarga dengan prestasi belajar. Penelitian lain di Indonesia juga telah membuktikan hal yang sama.
Partisipasi yang tinggi tersebut nampaknya belum terjadi di negara berkembang (termasuk Indonesia). Hoyneman dan Loxley menyatakan bahwa di negara berkembang sebagian besar keluarga belum dapat diharapkan untuk lebih banyak membantu dan mengarahkan belajar murid, sehingga murid di negara berkembang sedikit waktu yang digunakan dalam belajar. Hal ini disebabkan banyak masyarakat/orang tua murid belum paham makna mendasar dari peran mereka terhadap pendidikan anak. Bahkan Made Pidarta menyatakan di daerah pedesaan yang tingkat status sosial ekonomi yang rendah, mereka hampir tidak menghiraukan sekolah dan mereka menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anaknya kepada sekolah.

B. Perlunya Pengelolaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari masyarakat beserta lingkungan yang ada disekitarnya. Semua keadaan lingkungan tersebut berperan dan memberikan kontribusi terhadap proses peningkatan kualitas pendidikan dan atau kualitas lulusan pendidikan. Perhatian manajer pendidikan/Top Manajemen (Kepala Sekolah) seharusnya adalah berupaya untuk mengintegrasikan sumber-sumber pendidikan dan memanfaatkannya secara optimal mungkin, sehingga semua sumber tersebut memberikan kontribusi terhadap penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas. Salah satu sumber yang perlu dikelola adalah lingkungan masyarakat atau orang tua murid, termasuk stakeholders. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Mengapa Manajemen Pendidikan perlu Menangani Masyarakat (perlu Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat), secara optimal baik orang tua murid, stakeholders, tokoh masyarakat maupun institusi yang ada di lingkungan sekolah.
Organisasi sekolah adalah organisasi yang menganut sistem tebuka, sebagai sistem terbuka berarti sekolah mau tidak mau, disadari atau tidak disadari akan selalu terjadi kontak hubungan dengan lingungannya yang disebut sebagai supra sistem. Kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sistem atau lembaga itu tidak mudah punah. Suatu organisasi yang mengisolasi diri, termasuk sekolah sebagai organisasi apabila tidak melakukan kontak dengan lingkungannya maka dia lambat laun akan mati secara alamiah (tidak dapat eksis), karena organisasi hanya akan tumbuh dan berkembang apabila didukung dan dibutuhkan oleh lingkungannya. Hanya sistem terbuka yang memiliki megantropy, yaitu suatu usaha yang terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan. Ini berarti hidup matinya sekolah akan sangat tergantung dan ditentukan oleh usaha sekolah itu sendiri, dalam arti sejauhmana dia mampu menjaga dan memelihara komunikasinya dengan masyarakat luas atau dia mau menjadi organisasi terbuka.
Dalam kenyataan sering kita temui sekolah yang tidak punya nama baik di masyarakat akhirnya akan mati. Hal ini disebabkan karena sekolah itu tidak mampu membuat hubungan yang baik dan harmonis dengan masyarakat pendudkungnya. Dengan berbagai alasan masyarakat tidak mau menyekolahkan anaknya di suatu sekolah, yang akhirnya membuat sekolah itu mati dengan sendirinya. Demikian pula sebaliknya sekolah yang bermutu akan dicari bahkan masyarakat akan membayar dengan biaya mahal asalkan anaknya diterima di sekolah tersebut. Adanya sekolah favorit dan tidak favorit ini nampaknya sangat terkait dengan kemampuan kepala sekolah mengadakan pendekatan dan hubungan dengan para pendukungnya di masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh pengusaha, tokoh agama dan tokoh politik atau tokoh pemerintahan (stakeholders).
Karena itu sejak lama Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berlangsung pada tiga lingkungan yaitu lingkungan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat. Konsep ini diperkuat oleh kebijakan pemerintah bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, orang tua dan masyarakat. Artinya pendidikan tidak akan berhasil kalau ketiga komponen itu tidak saling bekerjasama secara harmonis. Kaufman menyebutkan patner/mitra pendidikan tidak hanya terdiri dari guru dan siswa saja, tetapi juga para orang tua/masyarakat.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa sekolah bukanlah lembaga yang berdiri sendiri dalam membina pertumbuhan dan perkembangan putra-putra bangsa, melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas, dan bersama masyarakat membangun dan meningkatkan segala upaya untuk memajukan sekolah. Hal ini akan dapat dilakukan apabila masyarakat menyadari akan pentingnya peranan mereka dalam sekolah. Hal ini dapat tercipta apabila sekolah mau membuka diri dan menjelaskan kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana masyarakat dapat berperan dalam upaya membantu sekolah/sekolah memajukan dan meningkatkan kualiutas penyelenggaraan pendidikan.
Ada hubungan saling menguntungkan antara sekolah dengan masyarakat, yaitu dalam bentuk hubungan saling memberi, saling melengkapi dan saling menerima sebagai patner yang memiliki kedudukan setara.
Sekolah pada hakekatnya melaksanakan dan mempunyai fungsi ganda terhadap masyarakat, yaitu memberi layanan dan sebagai agen pembaharuan bagi masyarakat sekitarnya, yang oleh Stoop disebutnya sebagai fungsi layanan dan fungsi pemimpin (fungsi untuk memajukan masyarakat melalui pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas).
Sebagai lembaga yang berfungsi sebagai pembaharu terhadap masyarakat maka sekolah mau tidak mau atau suka tidak suka harus mengikutsertakan masyarakat dalam melaksanakan fungsi dan peranannya agar pekerjaan dan tanggung jawab yang dipikul oleh sekolah akan menjadi ringan.
Setiap aktivitas pendidikan, apalagi yang bersifat inovatif, seharusnya dikomunikasikan dengan masyarakat khususnya orang tua siswa, agar merka sebagai salah satu penanggung jawab pendidikan menegrti mengapa aktoivitas tersebut harus dilakukan oleh sekolah dan pada sisi mana mereka dapat berperan membantu sekolah dalam merealisasikan program inovatif tersebut.
Dengan hubungan yang harmonis tersebut ada beberapa manfaat pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat (School Public Relation) yaitu:
Bagi Sekolah/sekolah.
1. Memperbesar dorongan mawas diri, sebab seperti diketahui pada saat dengan berkembangnya konsep pendidikan oleh masyarakat, untuk masyarakat dan dari masyarakat serta mulai berkembangnya impelementasi manajemen berbasis sekolah, maka pengawasan sekolah khususnya kualitas sekolah akan dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat antara lain melalui dewan pendidikan dan komite sekolah.
2. Memudahkan/meringankan beban sekolah dalam memperbaiki serta meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Hal ini akan tercapai apabila sekolah benar-benar mampu menjadikan masyarakat sebagai mitra dalam pengembangan dan peningkatan sekolah. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada sekolah yang berkembang dan berkualitas baik apabila tidak mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat lingkungannya. Masyarakat akan mendukung sepenuhnya serta membantunya apabila sekolah mampu menunjukkan kinerja yang berkualitas.
3. Memungkinkan upaya peningkatan profesi mengajar guru. Melalui hubungan yang erat dengan masyarakat, maka profesi guru akan semakin mudah untuk tumbuh dan berkembang. Sebab pada dasarnya laboraturium terbaik bagi sekolah seperti sekolah adalah masyarakatnya sendiri. Demikian pula laboraturium profesi guru yang professional akan dibuktikan oleh masyarakatnya.
4. Opini masyarakat tentang sekolah akan lebih positif/benar. Opini yang positif akan sangat membantu sekolah dalam mewujudkan segala program dan rencana pengembangan sekolah secara optimal, sebab opini yang baik merupakan modal utama bagi sekolah untuk mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Bantuan masyarakat hanya akan lahir apabila mereka memiliki opini dan persepsi yang positif tentang sekolah. Karena itu keterbukaan, kebersamaan dan komitmen bersama perlu ditumbuhkembangkan di lingkungan sekolah.
5. Masyarakat akan ikut serta memberikan kontrol/koreksi terhadap sekolah, sehingga sekolah akan lebih hati-hati.
6. Dukungan moral masyarakat akan tumbuh terhadap sekolah sehingga memudahkan mendapatkan bantuan material dari masyarakat dan akan memberikan kemudahan dalam penggunaan berbagai sumber belajar termasuk nara sumber yang ada dalam masyarakat.

Bagi Masyarakat, dengan adanya hubungan yang harmonis antar sekolah dengan masyarakat maka:
1. Masyarakat/orang tua murid akan mengerti tentang berbagai hal yang menyangkut penyelenggaraan pendidikan di sekolah
2. Keinginan dan harapan masyarakat terhadap sekolah akan lebih mudah disampaikan dan direalisasikan oleh pihak sekolah.
3. Masyarakat akan memiliki kesempatan memberikan saran, usul maupun kritik untuk membantu sekolah menciptakan sekolah yang berkualitas.
BAB IV
KONSEP DASAR MANAJEMEN PERAN SERTA MASYARAKAT

Seperti diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa sekolah sebagai institusi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan sekolah tersebut berada. Saling keterkaitan sekolah dengan masyarakat ini akan semakin terasa dengan orang tua murid pada saat tumbuh dan berkembang berbagai kenakalan remaja, penyalahgunaan obat-obat terlarang, prestasi belajar yang rendah dan berbagai masalah pembelajaran lain.
Untuk memahami apa dan untuk apa program hubungan sekolah dan masyarakat perlu diaplikasikan secara intensif dalam pengelolaan pendidikan, berikut ini akan diuraikan beberapa hal pokok: Pengertian, Tujuan, Prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat.

A. Pengertian
Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak, pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Apakah ini yang dimaksud dengan hubungan sekolah dengan masyarakat, tentunya yang dimaksudkan dalam uraian disini tidak sesederhana pengertian tersebut.
Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Apa sebenarnya kebutuhan masyarakat terhadap sekolah (sekolah)? Masyarakat (lebih khusus lagi orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. Secara praktis sering kita dengar para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah (khususnya NEM). Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan out put yang berkualitas pula. Dengan tuntutan yang demikian akan menjadi beban bagi sekolah, dengan segala keterbatasan yang dimilikinya (tenaga, biaya, waktu dan sebagainya).
Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan masyarakat yang terkait dengan sekolah. Di sisi lain pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak menunggu adanya permintaan masyarakat, tetapi sekolah/sekolah berusaha secara aktif (jemput bola), serta mengambil inisiatif untuk melakukan berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis.
Apabila dicermati pengertian tersebut di atas, nampaknya lebih mengarah pada pola hubungan satu arah, yaitu kemauan sekolah/sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan sekolah. Ini berarti pihak sekolah kurang mendapatkan balikan dari pihak masyarakat.
Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti dikutip oleh Suriansyah (2000), yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:
1. Information given to the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat)
2. Persuasion directed at the public, to modify attitude and action (melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah)
3. Effort to integrated attitudes and action of institution with its public and of public with the institution (suatu upaya untuk menyatukan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat secara timbal balik, yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke sekolah.

Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya hakekat hubungan sekolah dan masyarakat. Hal terpenting dari pengertian di atas, adalah adanya informasi yang diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan.
Dengan memahami dua pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat di atas, kita dapat membuat suatu pengertian sederhana tentang hubungan sekolah dan masyarakat sebagai suatu “proses kegiatan menumbuhkan dan membina saling pengertian kepada masyarakat dan orang tua murid tentang visi dan misi sekolah, program kerja sekolah, masalah-masalah yang dihadapi serta berbagai aktivitas sekolah lainnya”.
Pengertian ini memberikan dasar bagi sekolah, bahwa sekolah perlu memiliki visi dan misi serta program kerja yang jelas, agar masyarakat memahami apa yang ingin dicapai oleh sekolah dan masalah/kendala yang dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan, melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Dengan demikian mereka dapat memikirkan tentang peranan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya untuk membantu sekolah.
Pemahaman masyarakat yang mendalam, jelas dan konprehensip tentang sekolah merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya dukungan dan bantuan mereka terhadap sekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh C.L. Brownell seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) yang menyatakan bahwa: Knowledge of the program is essential to understanding, and understanding is basic to appreciation, appreciation is basic to support.
Bertolak dari pendapat yang diungkapkan Brownell tersebut di atas, dapat dipahami bahwa sekolah/sekolah perlu melakukan beberapa aktivitas dalam melaksanakan manajemen peran serta masyarakat agar dapat mencapai hasil yang diharapkan dan memberdayakan masyarakat dan stakeholders lainnya. Beberapa aktivitas tersebut adalah:
Selalu memberikan penjelasan secara periodik kepada masyarakat tentang program-program pendidikan di sekolah, masalah-masalah yang dihadapi dan kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai oleh sekolah (berfungsi sebagai akuntabilitas). Agar pemahaman program oleh masyarakat menyentuh hal yang mendasar, maka harus dimulai dengan penjelasan tentang Visi dan Misi serta tujuan sekolah secara keseluruhan. Apa yang dimaksud dengan Visi dan Misi Sekolah anda dapat memperdalam pada buku-buku reference lain. Kenyataan selama ini tidak semua warga sekolah menghayati atau memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi dan misi sekolah, sehingga pada saat masyarakat ingin mengetahui secara mendalam tentang hal tersebut warga sekolah (guru, murid, staf tata usaha dan lain-lain) tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci. Hal ini akan memberikan kesan yang kurang baik kepada masyarakat.
Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dipahami masyarakat dan apa yang diinginkan serta program-program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka penghargaan mereka terhadap sekolah akan tumbuh. Tumbuhnya penghargaan inilah yang akan mendorong adanya dukungan dan bantuan mereka pada sekolah. Dengan demikian maka program sekolah harus seiring dengan kebutuhan masyarakat. Karena memang pelanggan dan pengguna hasil lulusan sekolah adalah masyarakat. Atau dengan kata lain pelanggan sekolah itu pada hakekatnya adalah siswa dan orang tua siswa serta masyarakat. Karena itu kebutuhan dan kepuasan pelanggan merupakan hal pokok yang harus diperhatikan oleh lembaga sekolah. Sebagai contoh: Bagaimana masyarakat mau membantu sekolah apabila sekolah di tengah masyarakat religius dan fanatic, sekolah tidak pernah memprogramkan kegiatan sekolah yang bersifat religius, sehingga sekolah terisolir dari masyarakatnya. Sekolah menjadi menara gading bagi lingkungan masyarakatnya sendiri. Kondisi ini yang mendorong masyarakat untuk tidak terlibat apalagi berpartisipasi membantu sekolah.
Bertolak dari gambaran tersebut di atas, Nampak manfaat yang sangat besar bagi sekolah dan masyarakat, apabila hubungan sekolah dengan masyarakat benar-benar dapat dikelola dan direalisasikan secara utuh sesuai dengan konsepsi di atas.
Di samping manfaat seperti diuraikan di atas, pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang baik akan memberikan manfaat lain seperti:
1. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengerti dengan jelas tentang Visi, misi, tujuan dan program kerja sekolah, kemajuan sekolah beserta masalah-masalah yang dihadapi sekolah secara lengakap, jelas dan akurat.
2. Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan mengetahui persoalan-persolan yang dihadapi atau mungkin dihadapi sekolah dalam mencapai tujuan yang diinginkan sekolah. Dengan demikian mereka dapat melihat secara jelas dimana mereka dapat berpartisipasi untuk membantu sekolah.
3. Sekolah akan mengenal secara mendalam latar belakang, keinginan dan harapan-harapan masyarakat terhadap sekolah. Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua murid terhadap sekolah, khususnya sekolah merupakan unsure penting guna menumbuhkan dukungan yang kuat dari masyarakat. Apabila hal ini tercipta, maka sikap apatis, acuh tak acuh dan masa bodoh masyarakat akan hilang. Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah sekolah mengenal harapan masyarakat? Atau sekarang justru sekolah memaksakan harapannya kepada masyarakat! Coba kita analisis kondisi tersebut berdasarkan pengalaman dan penglihatan selama ini dalam praktek penyelenggaraan pendidikan di tingkat sekolah. Apabila kita belum melakukan hal tersebut, maka sudah saatnya mulai sekarang sekolah berbenah diri untuk membangun kemitraan dengan masyarakat/ stakeholders untuk kemajuan sekolah.

Apabila kondisi dia atas tercipta, para siswa secara langsung mengetahui bahwa mereka mendapat perhatian yang besar dari kedua belah pihak, baik pihak orang tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Hal ini tentunya merupakan kartu kendali bagi sekolah untuk bersikap, berperilaku dan bertindak di luar aturan sekolah yang ada. Kendali/control yang dilakukan bersama antara sekolah dan masyarakat secara terpadu akan memberikan ruang sempit bagi siswa, maupun warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau berperilaku tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.
Dalam kenyataan yang ditemui di lembaga-sekolah sekarang ini nampaknya masih sedikit ditemukan pola-pola hubungan yang dapat mendorong terciptanya keempat hal pokok di atas. Hal ini disebabkan adanya persepsi bahwa peningkatan mutu sekolah dan peningkatan proses pembelajaran cukup dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak pemerintah secara sepihak. Sedangkan pihak masyarakat dan orang tua murid cukup dimintakan bantuannya dalam bentuk keuangan saja, atau ada semacam persepsi seolah-olah sekolah yang bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. Sedangkan orang tua (masyarakat) tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di sekolah. Keterlibatan orang tua/masyarakat sering diinterpretasikan atau dipersepsi sebagai bentuk intervensi yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Keadaan ini juga turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab antar sekolah dengan pihak masyarakat. Persepsi yang salah ini sebagai akibat dari kurangnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan juga pemahaman warga sekolah tentang apa dan bagaimana harusnya pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat dibangun. Di samping itu pemberdayaan masyarakat masih cenderung pada aspek pembiayaan.
B. Tujuan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu aktivitas yang mendapat kedudukan setara dengan kegiatan pengajaran, pengelolaan keuangan, Pengelolaan kesiswaan dan sebagainya (ingat substansi kegiatan management sekolah) juga harus direncanakan, dikelola dan dievaluasi secara baik. Tanpa perencanaan dan pengelolaan serta evaluasi yang baik, tujuan yang hakiki dari kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak akan tercapai.
Apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ?, gambaran pada pembahasan di atas sudah memperlihatkan kepada kita tentang apa yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. Secara lebih lengkap Elsbree dan Mc Nelly seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) menyatakan bahwa kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk
1. To improve the quality of children’s learning and growing.
2. To rise community goals and improve the quality of community living
3. To develop understanding, enthusiasm and support for community program of public educations

Dari pendapat ini terlihat bahwa yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ini tidak hanya sekedar mendapat bantuan keuangan dari orang tua murid/masyarakat, tetapi lebih jauh dari hal tersebut yaitu pengembangan kemampuan belajar anak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, yang pada akhirnya dapat menumbuhkan dukungan mereka akan pendidikan.
Sebagai bahan perbandingan, anda dapat mempelajari tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L.Hagman sebagai berikut:
1. Untuk memperoleh bantuan dari orang tua murid/masyarakat, Bantuan apa? Ingat bantuan ini bukan hanya sekedar uang! Untuk melaporkan perkembangan dan kemajuan, masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah. Kapan sebenarnya laporan ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah ?
2. Untuk memajukan program pendidikan.
3. Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama yang erat, sehingga segala permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara bersama dan dalam waktu yang tepat.

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan sekolah/sekolah dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk meningkatkan:
1. Kualitas pembelajaran. Kualitas lulusan sekolah dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor hanya akan dapat tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di luar kelas. Proses pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai apabila didukung oleh berbagai pihak termasuk orang tua murid/masyarakat.
2. Kualitas hasil belajar siswa. Kualitas belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan tindakan antara sekolah, masyarakat dan orang tua siswa. Kebersamaan ini terutama dalam memberikan arahan, bimbingan dan pengawasan pada anak/murid dalam belajar. Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan dalam konteks peningkatan mutu hasil belajar.
3. Kualitas pertumbuhan dan perkembangan peserta didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu sendiri. Kualitas masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan dan hasil pendidikan yang handal. Lulusan yang berkualitas merupakan modal utama dalam membangun kualitas masyarakat di masa depan.

Ini berarti segala program yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran, kualitas hasil belajar dan kualitas pertumbuhan/perkembangan peserta didik. Apabila hal tersebut dapat kita lakukan, maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat dibangun secara optimal.

C. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan, maka beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan perhatian. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut:

1. Integrity
Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik. Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang telah, sedang dan akan dijalankan oleh sekolah, untuk menghindari salah persepsi serta kecurigaan terhadap sekolah. Biasanya sering terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Oleh sebab itu sekolah harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan adanya salah persepsi, salah interpretasi tentang informasi yang disajikan dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap, sehingga dapat diterima secara rasional oleh masyarakat. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap sekolah, atau dengan kata lain transparansi sekolah sangat diperlukan, lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini, masyarakat akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang sekolah. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat dan valid. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebabkan hal yang negatif bagi sekolah, akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. Karena dia tidak dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri.

2. Continuity
Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus. Jadi pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau sewaktu-waktu, misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu semester/caturwulan, atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta bantuan keuangan kepada orang tua /masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan masyarakat selalu beranggapan bahwa apabila ada panggilan sekolah untuk datang ke sekolah selalu dikaitkan dengan minta bantuan uang. Akibatnya mereka cenderung untuk tidak datang atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk menghadiri undangan sekolah.
Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa undangan kepada orang tua murid dari sekolah sering diwakilkan kehadirannya kepada orang lain, sehingga kehadiran mereka hanya berkisar antara 60% - 70% bahkan tidak jarang kurang dari 30%. Apabila ini terkondisi, maka sekolah akan sulit mendapat dukungan yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat.
Perkembangan informasi, perkembangan kemajuan sekolah, permasalahan-permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu muncul dan tumbuh setiap saat, karena itu maka diperlukan penjelasan informasi yang terus menerus dari sekolah untuk masyarakat/orang tua murid, sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan mutu pendidikan putra-putrinya. Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat. Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh masyarakat kepada sekolah.

3. Coverage
Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup semua aspek, factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh masyarakat, misalnya program ekstra kurikuler, kegiatan kurikuler, remedial teaching dan lain-lain kegiatan. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala informasi hendaknya lengkap, akurat dan up to date.
Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau disimpan, padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab itu informasi kemajuan sekolah, kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat. Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi yang diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif.
Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah informasi perkembangan, kemajuan, masalah dan prestasi sekolah terakhir. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat mencapai misi dan visi yang disusunnya.

4. Simplicity
Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi kelompok pihak pemberi informasi (sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melalui pertemuan langsung maupun melalui media hendaknya disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik pendengar (masyarakat setempat). Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung makna bahwa:
a. Informasi yang disajikan dinyatakan dengan kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. Banyak masyarakat yang tidak memahami istilah-istilah yang sangat ilmiah, oleh sebab itu penggunaan istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang menjadi audience.
b. Penggunaan kata-kata yang jelas, disukai oleh masyarakat atau akrab bagi pendengar.
c. Informasi yang disajikan menggunakan pendekatan budaya setempat.

5. Constructiveness
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya konstruktif dalam arti sekolah memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat. Dengan demikian masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. Apabila hal tersebut dapat mereka mengerti, akan merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Hal ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu.
Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu, termasuk dalam hal ini memberitahukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir bagi penerima informasi.
Penjelasan yang konstruktif akan menarik bagi masyarakat dan akan diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu, hal ini akan mengarahkan mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. Untuk itu informasi yang ramah, obyektif berdasarkan data-data yang ada pada sekolah.

6. Penyesuaian (Adaptability)
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi bekerja di sawah, tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada pagi hari.
Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta factor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat untuk berpartisipasi kedalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi sekolah.

D. Prosedur Pelaksanaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
Prosedur pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat dilaksanakan melalui 4 tahap berikut ini:

1. Menganalisis masyarakat
Kegiatan pertama dalam pelaksanaan manajemen peran serta masyarakat adalah menganalisis masyarakat yaitu yang berkaitan dengan sasaran masyarakat, kondisi, karakter, kebutuhan dan keinginan masyarakat akan pendidikan, problem yang dihadapi masyarakat serta aspek-aspek kehidupan masyarakat lainnya seperti kebiasaan, sikap, religius (fanatisme beragama) dan sebagainya. Hal ini sangat penting, karena pemahaman yang salah tentang kondisi masyarakat, akan menyebabkan program-program yang disusun dan dikembangkan oleh sekolah dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk pendidikan akan kurang tepat. Untuk melakukan analisis ini ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu:
a. Warga Sekolah memiliki kepekaan yang tinggi tentang masyarakat lingkungannya atau orang tua murid yang menjadi warga sekolahnya. Warga sekolah sudah semestinya merasakan secara sensitif atau peka tentang berbagai isu di tengah masyarakat baik yang terkait dengan pendidikan atau aspek lainnya yang akan mempengaruhi kegiatan pendidikan, Sensitivitas ini harus dimiliki oleh semua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru dan staf sekolah lainnya. Pada saat ini banyak hal atau isu yang berkembang di masyarakat/orang tua murid tentang pendidikan, baik yang sengaja dikembangkan oleh orang tertentu maupun yang berkembang akibat kebijakan pendidikan oleh pejabat pendidikan termasuk kebijakan yang diambil oleh sekolah seperti tentang BOS, uang sumbangan penerimaan siswa baru dan lain-lain.
b. mengadakan pengamatan melalui survey tentang kebiasaan, adat istiadat yang mendukung atau bahkan menghambat kemajuan pendidikan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu warga sekolah harus sudah terbiasa bergaul di tengah-tengah masyarakatnya dan akrab dengan semua orang tua murid tanpa memandang strata social mereka. Dengan cara ini akan memberikan kemungkinan yang besar bagi warga sekolah mengakses berbagai informasi, isu, dan kebutuhan masyarakat akan pendidikan anaknya di sekolah.
c. mengadakan wawancara dan dialog langsung dengan masyarakat khususnya melalui tokoh kunci (key informant), untuk mengetahui apa kebutuhan dan aspirasi mereka. Untuk dapat melaksanakan ini, setiap warga sekolah perlu memiliki kemampuan wawancara yang handal.

2. Mengadakan komunikasi
Tahap kedua dalam mengadakan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah mengadakan komunikasi dengan masyarakat sasaran. Mengadakan komunikasi pada dasarnya menyampaikan informasi dan pesan dari pihak sekolah kepada masyarakat sasaran khususnya berkaitan dengan kemajuan (progress), program dan masalah (problem). Dalam melakukan komunikasi menurut John L. Beckley, agar berhasil ada beberapa hal yang diperhatikan yaitu:
a. Practice Self Control, dalam hal ini berarti sebelum memberikan informasi kepada orang lain, pastikan bahwa informasi, petunjuk atau saran yang diberikan telah dilakukan oleh si pemberi informasi. Karena itu kalau sekolah meminta masyarakat memperhatikan sekolah, tanyakan dulu pada sekolah apakah sekolah sudah memperhatikan kebutuhan masyarakatnya.
b. Appraised and where deserve, artinya dalam berkomunikasi perlu memberikan penghargaan kepada lawan komunikasi, meskipun penghargaan tidak selalu dalam bentuk materi, misalnya jangan memalingkan muka pada saat lawan komunikasi berbicara, katakan baik, anggukan dan lain-lain.
c. Criticize Tactfully, artinya kalau anda ingin memberikan kritik dalam berkomunikasi, berikan secara bijaksana sehingga tidak mengganggu perasaan orang lain.
d. Always listen, berupayalah anda untuk belajar mendengarkan orang lain, termasuk dalam hal ini sensitif pada perasaan orang lain dengan melihat gejala yang muncul. Misalnya jangan paksakan meneruskan pembicaraan apabila terlihat lawan berkomunikasi sudah sangat bosan. Jangan mendominasi pembicaraan dengan orang lain (masyarakat lawan dialog), coba dengarkan apa yang mereka katakana (termasuk perkataan mereka melalui gerak tubuh), pahami dan hayati maknanya. Apabila terjadi perbedaan persepsi dengan mereka coba cari persamaannya, jangan perbesar perbedaannya.
e. Stress Reward, berikan penghargaan/ganjaran kepada lawan bicara kalau memang patut diberikan penghargaan. Penghargaan yang dimaksudkan dalam hal ini bukan hanya semata-mata dalam bentuk materi, tetapi juga dalam bentuk non materi.
f. Considered the persons interest, artinya perhatikan minat setiap individu lawan bicara. Oleh sebab itu mulailah pembicaraan dari sesuatu masalah yang menjadi minat, hobi atau pusat perhatian orang. Dalam pengertian ini dalam dialog jangan paksakan memulai pembicaraan dari konsep kita, tetapi mulailah dari sesuatu yang menjadi kebiasaan dan minat mereka, baru diarahkan kepada apa yang kita inginkan.
Keberhasilan komunikasi merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat (skill ini communication is a key to successful team effort). Artinya kalau anda ingin berhasil dalam memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, maka kunci pertama yang harus dikuasai adalah kemampuan berkomunikasi. Kembangkan kemampuan berkomunikasi secara baik, hal ini dapat dilakukan melalui latihan dan membiasakan berkomunikasi pada banyak orang.

3. Melibatkan Masyarakat
Melibatkan masyarakat bukan hanya sekedar menyampaikan pesan tapi lebih dari itu menuntut partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan dan program sekolah. Bagaimana teknik agar masyarakat dapat terlibat secara aktif dapat anda pelajari pada bagian bab berikut tentang teknik hubungan sekolah dengan masyarakat di bawah ini


BAB V
TEKNIK DAN BENTUK HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT

A. Teknik Hubungan Sekolah dan Masyarakat
Pelaksanaan manajemen peran serta masyarakat yang baik tidak hanya tergantung pada perencanaan dan persiapan materi yang baik, tetapi sangat tergantung pada ketepatan dalam menentukan dan menggunakan teknik komunikasi yang digunakan. Elsbree dam Mc Nelly menyatakan beberapa teknik hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: Newspapers, Radio Programmed, Parent Teacher Association Meeting, Special Bulletin for parent, Active Participation of Staff off staff in community organization.
Senada dengan pendapat di atas Leonard V Koes, juga menyatakan beberapa teknik dalam melakukan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut: The Public frequently reported as used with patrons and the general public exhibits, local newspaper, commencement exercise, bulletins to home, home and school visitations, parent teachers association, service to community organization report and radio.
Edward F DeRoche menyebutkan ada 25 cara dalam melaksanakan hubungan antara sekolah dengan masyarakat yaitu:
1. Education weeks
2. Recognition days
3. Home visits
4. Teachers aides
5. CARD (Community Agency Recognation Day)
6. Parent Teachers Conference
7. Speaker’s Bureau
8. Open House
9. Home Study
10. School and classroom newsletters
11. Calenders
12. Voting Reminder card
13. Success card
14. Local Newspaper
15. Career Specialist
16. Slide presentation
17. Coffe hour
18. Activity Displays
19. Class project in the community
20. Letters to the editor
21. Public performances
22. Fairs and tours
23. Telephone hotline
24. Strategy borrowing
25. Suggestion boxes
Apabila kita cermati dari beberapa pendapat tersebut, nampak bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai cara dan media baik media langsung (tatap muka) maupun media tidak langsung. Bahkan dalam perkembangan teknologi sekarang, hubungan sekolah dengan masyarakat sebenarnya dapat dilakukan menggunakan teknologi modern seperti telepon, internet dan sebagainya.
Berikut ini ada beberapa teknik yang dapat dipertimbangkan sebagai salah satu media dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat yang umum dan memungkinkan untuk dilaksanakan di sekolah.

1. Siaran Radio
Siaran radio sebagai sarana penyebaran informasi memiliki keunggulan dalam luasnya wilayah penyebaran informasi yang dapat dijangkau dalam waktu yang bersamaan. Dengan demikian dalam waktu yang singkat dapat disebarkan informasi kesemua pelosok pedesaan. Tetapi ada beberapa kelemahan siaran radio sebagai media penyebaran informasi khususnya yang berkaitan dengan program pendidikan. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
Diperlukan kemampuan yang tinggi dalam membuat, mendesain kemasan acara siaran yang mampu menarik minat masyarakat untuk mendengarkan siaran radio. Ini berarti memerlukan waktu yang relatif lama dan terkendala tenaga yang dimiliki oleh sekolah belum memiliki kemampuan yang tinggi untuk merancang materi siaran secara profesional.
Masyarakat perdesaan pada umumnya lebih senang mendengarkan radio dalam bentuk hiburan seperti lagu-lagu dan drama.
Untuk itu maka, acara siaran radio apabila digunakan sebagai salah satu teknik hubungan sekolah dengan masyarakat maka, isi siaran/materi yang harus disampaikan dikemas melalui selingan-selingan pesan pendek diantara acara-acara yang menarik perhatian masyarakat seperti hiburan dan sendiwara radio. Di samping itu dapat pula dilakukan dialog radio dan dialog interaktif melalui radio yang digabungkan dengan acara hiburan. Dengan demikian acara tersebut akan diikuti oleh masyarakat.
2. TV (khususnya Siaran Lokal).
TV Lokal mempunyai keunggulan karena luasnya wilayah yang dapat dijangkau oleh siaran dan mampu menjangkau semua wilayah pedalaman/perdesaan serta cukup menarik. Tetapi ada beberapa kelemahan seperti:
Tidak semua masyarakat sasaran (masyarakat miskin), memiliki pesawat TV, Sulitnya membuat kemasan acara yang benar-benar menarik masyarakat .
Meskipun demikian akhir-akhir ini nampaknya acara TV lokal sudah mulai digemari dan diikuti oleh masayarakat, termasuk acara dialog interaktif yang disiarkan sesuai dengan permasalahan yang sedang berkembang. Hal ini merupakan kesempatan bagi sekolah untuk menampilkan prestasi yang dicapai kepada masyarakat secara luas. Untuk itu siaran perlu didesain dalam bentuk:
Dialog interaktif dengan menampilkan Pejabat Dinas Pendidikan setempat, Kepala Sekolah, Tokoh masyarakat (termasuk tokoh-tokoh dari dunia usaha) dan tokoh agama serta Tokoh Pendidik. Pada dialog ini masing-masing peserta berbicara menurut perspektif masing-masing. Tokoh agama membahas pandangan agama terhadap kewajiban belajar, dsb. Di samping itu dalam dialog ini akan dapat diungkap apa harapan masyarakat dan tokoh masyarakat tentang pendidikan dan masyarakat tahu/mengerti apa harapan sekolah terhadap masyarakat.
Release-release berita tentang kegiatan yang berkaitan dengan keberhasilan Sekolah (prestasi akademik siswa maupun prestasi non akademi).
Diskusikan dalam kelompok:
Coba susun dan desain program sosialisasi tentang sekolah anda yang baru anda tempati melalui program siaran TV local.

3. Sticker dan Kalender.
Sticker yang berisikan pesan-pesan singkat dan promosi tentang sekolah dan poster- poster menarik dan lucu merupakan media yang sangat efektif untuk digunakan sebagai media penyebaran informasi. Hal ini didasarkan pada alasan-alasan sebagai berikut :
Karena sticker diberikan langsung kepada anak-anak dan masyarakat/orang tua yang memiliki anak yang sedang sekolah (disekolah yang bersangkutan), sehingga informasi/pesan yang disampaikan dapat mencapai sasaran langsung tanpa perantara. Sticker dapat pula berisi ajakan, seruan kepada anak-anak untuk belajar (pengembangan minat baca) dan ajakan partisipasi kepada orang tua murid/masyarakat untuk melakukan pengawasan belajar anak-anak serta pengawasan perilaku dan pergaulannya.
Karena sticker ditempatkan/ditempel oleh anak-anak / masyarakat yang menjadi sasaran di berbagai tempat yang mudah dilihat (seperti : di rumah, mobil, sepeda motor, sepeda, kapal, perahu dll), maka frekwensi dan intensitas interaksi media dengan masyarakat sasaran menjadi lebih banyak dan intensif. Sebab menurut hasil penelitian semakin banyak suatu media berinteraksi dengan pembacanya, akan dapat merubah persepsi dan perilaku sasaran interaksi. Dengan sticker ini akan terjadi interaksi yang sangat banyak (setiap hari).
Dengan pembagian sticker kerumah-rumah masyarakat sasaran (anak-anak, warung dsb), akan mendapatkan penghargaan bagi masyarakat pedesaan. Kondisi ini akan menumbuhkan perhatian dan pada gilirannya akan menimbulkan sikap dukungan mereka terhadap program sekolah yang disosialisasikan.
Sticker sebagai media cukup murah dan mudah didesain. Disamping itu sticker ini akan mampu bertahan minimal satu tahun. Dengan demikian isi pesan yang ada akan selalu dilihat dan diingat oleh masyarakat sasaran. Misalnya dalam sticker ini dapat dimuat pesan-pesan singkat tentang :
Sekolah sukses masa depan cerah
Putus sekolah Masa depan suram
Belajar Yes !!!!!
Narkoba No!!!!!
Dan lain-lain.

4. Poster
Media Poster sebagai media penyebaran informasi akan sangat efektif untuk mencapai khalayak sasaran melalui distribusi dan penempatan yang sangat fleksibel. Poster dapat ditempatkan ditengah-tengah masyarakat seperti pasar, (sebagai tempat pertemuan mingguan masyarakat pedesaan), kantor pelayanan masyarakat desa (kantor Kepala Desa, Rumah RT dsb), bahkan dapat diberikan langsung ke rumah-rumah sasaran, serta tempat-tempat lainnya. Dengan demikian poster diarahkan untuk mencapai khalayak sasaran sebagai berikut:
a. Masyarakat/orang tua yang memiliki anak usia sekolah, anaknya terancam DO dan orang tua yang anaknya lulus SD/MI tapi tidak melanjutkan atau diduga tidak akan melanjutkan ketingkat SLTP, lebih-lebih pada saat ini tentang pelaksanaan ujian akhir nasional, hal ini sangat penting untuk dikembangkan dan ditumbuhkan agar mereka siap dan mengantisipasi dengan pembimbingan tersebut.
b. Tokoh masyarakat dan tokoh agama.
c. Institusi-institusi masyarakat seperti tempat pengajian, langgar, mushola dan masjid.
d. Kantor Pelayanan Masyarakat (Sekolah-sekolah dan kantor pendidikan di Kabupaten/Kodya dan Kecamatan.
Agar poster ini benar-benar dapat menyentuh dan menggugah kemauan orang tua murid/masyarakat untuk mendukung program belajar anak dan program sekolah dalam meningkatkan mutu sekolah atau pengembangan sekolah, maka pesan harus didesain dengan pendekatan agama, dalam arti menyebutkan ayat-ayat Alqur'an atau Hadist yang berkaitan dengan kewajiban orang tua/masyarakat untuk mendidik, membimbing dan atau menyekolahkan anaknya sampai batas tertentu.
Pesan akan efektif dan dapat diterima oleh masyarakat apabila diucapkan oleh tokoh yang disegani (memiliki kharismatik yang tinggi) di tengah-tengah masyarakat.

5. Perlombaan
Perlombaan merupakan kegiatan yang cukup menarik bagi anak-anak usia sekolah di pedesaan, hal ini akan mampu membuat dan meningkatkan motivasi anak berkompetisi secara sehat, seperti lomba cerdas cermat, debat Bahasa Inggris, mengarang ceritera, lomba KIR, lomba inovatif dan sebagainya. Hal ini sangat mendorong para siswa untuk berkompetisi dan memacu kemampuannya baik secara individu maupun secara kelompok yang mengatasnamakan sekolah. Untuk itu maka kegiatan perlombaan perlu didesain secara tepat dan dilaksanakan sasaran dengan sasaran yang tepat, waktu yang tepat dan substansi yang akurat. Kegiatan-kegiatan perlombaan yang cukup menarik dan disaksikan oleh orang banyak (termasuk orang tua/masyarakat) adalah sebagai berikut:

6. Leaflet
Leaflet sebagai salah satu media untuk menyebarkan informasi, merupakan salah satu cara yang cukup efektif. Sebab dengan media ini informasi dapat diberikan secara lebih jelas dan lengkap. Di samping itu apabila media ini diberikan kepada Tokoh masyarakt, tokoh agama, orang tua dan tokoh-tokoh lainnya, akan menjadi bahan informasi yang jelas agar mereka dapat menjelaskan secara lengkap tentang program belajar atau program sekolah/pendidikan kepada masyarakat sasaran. Dengan demikian mereka merupakan kepanjangan tangan Depdiknas, sekolah atau institusi pendidikan dalam menyebarlusakan informasi secara benar dan lengkap.

7. Dialog dengan Masyarakat (Pertemuan Sekolah dengan Masyarakat/ Orang Tua Murid)
Edward F De Roche menyatakan bahwa ada 4 tujuan dilaksanakannya kegiatan pertemuan antara orang tua murid/masyarakat dengan pihak sekolah, yaitu:
a. For the teacher and the parents to get to know each other
b. For the teachers to share information about the child’s academic progress and behavior with the parents
c. For parent to share information about the child’s out of school behavior and activities with the teacher
d. For both to examine solution to problems and to develop ways of maintaining positive behavior and achievement
Dialog langsung ini dapat dilakukan dengan orang tua murid, tokoh masyarakat dan atau tokoh agama serta tokoh pendidikan lainnya tentang program belajar dan program sekolah, lebih-lebih yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan baru yang diambil oleh pemerintah/sekolah, yang akan berakibat pada orang tua. Dialog akan sangat efektif apabila dilakukan langsung dengan masyarakat/orang tua murid yang menjadi sasaran khusus. Oleh sebab itu dialog dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan sosial keagamaan yang ada di masyarakat seperti: Kelompok Pengajian, Kelompok Yasinan. Kelompok Sholawat dan kelompok-kelompok lainnya yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat pedesaan.
Melalui pertemuan yang dilakukan secara berkala akan terjadi saling tukar menukar informasi (terjadi face to face relationship) antara sekolah dengan orang tua murid/masyarakat. Di dalam pertemuan atau dialog ini segala permasalahan yang dihadapi baik oleh sekolah maupun oleh orang tua murid/masyarakat minimal diketahui bersama yang pada gilirannya akan dapat dicari pemecahannya secara bersama. Pertemuan secara berkala ini dapat dilakukan pada awal tahun ajaran, setelah catur wulan (setelah pembagian raport) atau setelah tahun ajaran berakhir.
Salah satu pertemuan orang tua murid dengan pihak sekolah/guru/wali kelas yang selama ini cukup banyak digunakan oleh sekolah-sekolah adalah pembagian raport yang dilakukan melalui orang tua siswa.
Pembagian raport melalui orang tua murid ini memiliki keunggulan tersendiri sebagai teknik hubungan sekolah dengan masyarakat apabila dilakukan secara benar. Sebab melalui kegiatan ini orang tua akan mengetahui apa yang dikehendaki oleh pihak sekolah dalam membantu anak didik pada saat berada di rumah. Di samping itu orang tua akan tahu secara langsung dari guru (wali kelas) tentang kedudukan anaknya di dalam kelas (termasuk pandai, sedang, bodoh, nakal, disiplin, bahkan masalah yang dialami anak dalam belajar). Karena itu prosedur pembagian raport yang benar harus dilakukan. Hal terpenting yang harus terjadi pada saat pembagian raport bukanlah hanya sekedar orang tua murid datang dan menerima raport anaknya, tetapi terjadi dialog antara kepala sekolah, guru dengan orang tua murid tentang berbagai hal antara lain:
a. Progress atau kemajuan yang diperoleh anak dan prestasi sekolah, khususnya prestasi akademik maupun prestasi non akademik. Secara khusus progress anak dalam satu semester atau satu tahun ajaran perlu disampaikan secara umum kepada semua orang tua murid. Pada anak tertentu (yang dianggap bermasalah) perlu disampaikan berbagai hal yang terkait dengan anak seperti perilaku keseharian, disiplin, motivasi belajar dan lain-lain secara khusus (face to face) oleh wali kelas.
b. Program. Program apa yang akan dilakukan sekolah dalam satu semester yang akan datang atau satu tahun yang akan datang, perlu diberitahukan kepada masyarakat/ orang tua murid agar mereka mendapat kejelasan kemana arah pengembangan sekolah ini di masa yang akan datang. Program jangka panjang maupun jangka pendek bahkan kalau perlu program harian sekolah dalam mempercepat peningkatan mutu pendidikan harus pula mendapat perhatian yang serius pada saat pertemuan dengan orang tua murid/masyarakat.
c. Problem, yaitu berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah, khususnya masalah yang dihadapi anak dalam proses pendidikan di sekolah, sehingga orang tuanya mengerti apa dan bagaimana mereka harus berperan dalam membantu sekolah untuk meningkatkan kualitas anaknya masing-masing.

8. Kunjungan ke Rumah (Home Visit)
Home visit merupakan salah satu cara dalam melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat/orang tua murid yang dapat mempererat hubungan antara sekolah dengan orang tua murid. Melalui kunjungan ini ada beberapa manfaat yang diperoleh yaitu:
a. Sekolah mengenal situasi yang sebenarnya baik dari orang tua murid maupun dari siswa secara langsung. Hal ini dapat berfungsi sebagai cross chek bagi sekolah mengenai kondisi, karakter maupun kepribadian dan perilaku belajar anak di rumah.
b. Orang tua murid akan mendapat keterangan yang sebenarnya tentang anaknya di sekolah, yang berkenaan dengan: hasil belajarnya, tingkah laku dan pergaulan di sekolah, kehadiran di sekolah, prestasi non akademik dan lain sebagainya.
c. Sekolah akan memperoleh data dan gambaran yang lengkap dan akurat tentang siswa di rumah, sikap orang tua siswa dalam kehidupan di rumah atau pola pergaulan dalam keluarga.
d. Sekolah akan memperoleh data tentang kebutuhan orang tua akan pendidikan anaknya di sekolah, beserta berbagai harapan yang mereka inginkan terhadap sekolah.
Informasi-informasi tersebut sangat diperlukan, baik oleh sekolah maupun bagi orang tua murid dan keluarganya dalam upaya membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Jacobson yang menyatakan bahwa: Knowledge of the children’s background in a teachers class or home is invaluable, because it result in clearer insight by teachers into the problems witch condition the particular children.

9. Partisipasi Sekolah dengan Masyarakat Lingkungan
Sekolah dapat berpartisipasi dengan masyarakat setempat, melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat umum, misalnya turut kerja bakti, gotong royong kebersihan lingkungan dan sebagainya. Melalui kegiatan ini akan dapat menciptakan saling pengertian antara sekolah dengan masyarakat setempat. Adanya saling pengertian ini akan membuahkan tumbuhnya saling membantu. Apabila ini dapat tercipta maka :
a. Apa yang diperbuat sekolah akan sesuai dengan keinginan masyarakat
b. Masyarakat akan memberikan bantuannya sesuai dengan apa yang diharapkan sekolah.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Chamberlain and Kindred yang menyatakan bahwa: Through this exchange of ideas teacher (and principal) can interpret the school to the community, and community can be interpreted to the school.
Melalui partisipasi sekolah dalam kegiatan masyarakat ini akan menumbuhkan kepekaan social sekolah terhadap lingkungannya. Hal ini memberikan nilai tambah bagi anak didik dalam rangka pembentukan karakter yang peka terhadap lingkungan. Kegiatan seperti kebersihan lingkungan, penanaman pohon/penghijauan, membantu panti asuhan/ kunjungan, bantuan korban bencana (misalnya banjir, kebakaran) maupun kegiatan lainnya di masyarakat sangat mendukung pembentukan kepekaan social, solidaritas social.
Untuk terlaksananya kegiatan tersebut secara efektif, diperlukan persiapan yang matang oleh sekolah dengan terlebih dahulu dilakukan:
a. pembentukan kepanitiaan yang melibatkan guru dan siswa serta orang tua siswa (bila diperlukan)
b. penetapan sasaran kegiatan/lokasi dan jenis kegiatan.
c. Persiapan pembekalan awal kepada peserta kegiatan
d. Persiapan bahan yang diperlukan untuk kegiatan
e. Serta kemungkinan-kemungkinan lain yang tak terduga.

10. Surat Kabar/majalah
Surat kabar/majalah merupakan media informasi yang dapat disebarkan keberbagai pihak, institusi maupun sasaran lainnya secara luas. Melalui surat kabar sekolah ini banyak informasi yang dapat diberikan/disosialisasikan kepada berbagai sasaran.
Penggunaan surat kabar sekolah sebagai media memberikan informasi kepada masyarakat memberikan nilai tambah yang besar, tidak hanya memberikan informasi kepada masyarakat sekolah dan orang tua/masyarakat umum tentang sekolah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi siswa khususnya dalam meningkatkan kemampuan menulis melalui latihan sebagai penulis/wartawan kecil. Hal ini mendorong siswa untuk banyak membaca dan menggunakan bahasa secara baik dan benar.

B. Bentuk-bentuk Pertisipasi orang Tua Murid/Masyarakat yang Diharapkan oleh Sekolah (khususnya Sekolah)
Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa: apabila masyarakat menganggap sekolah merupakan cara dan lembaga yang dapat member keyakinan untuk membina dan meningkatkan kualitas perkembangan anak-anaknya, mereka akan mau berpartisipasi kepada sekolah (Walsh). Untuk mengikutsertakan masyarakat dalam pengembangan pendidikan para manajer pendidikan/kepala sekolah memegang peranan yang sangat strategis dan menentukan. Kepala sekolah dapat melalui tokoh-tokoh masyarakat secara aktif menggugah perhatian mereka untuk memahami dan membantu sekolah dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan sekolah dan masyarakat. Mereka dapat diundang untuk membahas bentuk-bentuk kerjasama dalam meningkatkan mutu pendidikan, tukar menukar pendapat bahkan adu argumentasi dan sebagainya dalam mencari solusi peningkatan mutu pendidikan. Bentuk partisipasi bagaimana yang diharapkan sekolah terhadap orang tua murid, tentunya didasarkan pada tujuan apa yang hendak dicapai oleh sekolah dalam proses pendidikan di sekolah.
Tujuan yang ingin dicapai sekolah pada hakekatnya adalah tujuan pendidikan secara nasional. Tujuan tersebut apabila kita cermati terlihat unsur-unsur sebagai berikut: Manusia yang bertaqwa, berbudi pekerti dan berkepribadian, Disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab serta mandiri, Cerdas dan terampil, Sehat jasmani dan rohani, Cinta tanah air dan mempunyai semangat kebangsaan serta kesetiakawanan sosial.
Edward F DeRoche menyebutkan ada beberapa hal pokok yang harus ditekankan dan menjadi perhatian utama untuk dibina, dikembangkan dan ditingkatkan sekolah melalui kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu:
1. Children’s and Parents work habits
2. Structur, routin and priorities
3. Time to study, work, play, sleep, read
4. Space to do these things
5. Responsibility, punctually and sharing
6. Academic guidance and support
7. Encouragement, interest and commitment
8. Prise, approval and reward
9. Knowledge of the child’s strengths, weaknesses and learning problems
10. Supervision of child’e homework, study and activities
11. Use reference materials
12. Stimulation to explore and discuss ideas and events
13. Family/parent/child activities
14. Conversations, games, hobbies, play, reading
15. Family cultural activities
16. Discussion of books, television, enwspaper, magazines
17. Language development in the home
18. Mastery of mother tongue
19. Correct language usage
20. Good speech habits
21. vocabulary and sentence pattern development
22. Listening, reading, talking and writing
23. Academic aspirations and expectations
24. Motivation to learn well
25. Support, encouragement
26. Parents’knowledge of school activities, teachers, classes, subjects
27. Standards and expectations
28. Assistence to child’e aspirations
29. Plans fir high school, college the future
30. Friendships with others who have an interest in education
31. Sacrifices of time and money
Apabila kita cermati pendapat di atas, nampak bahwa apa yang diinginkan sekolah dari orang tua murid sebenarnya lebih cenderung untuk meningkatkan prestasi akademik dan non akademik siswa. Jadi komunikasi antara sekolah dengan masyarakat sebenarnya tidak hanya mencari bantuan uang/material semata-mata, apalagi kalau bantuan material menjadi tujuan utama dalam hubungan sekolah dengan masyarakat. Kondisi inilah sebenarnya yang menyebabkan sering terjadi orang tua malas atau bahkan tidak mau datang ke sekolah kalau mendapat undangan dari pihak sekolah.
Apabila Masyarakat memandang sekolah (sekolah) sebagai lembaga yang memiliki cara kerja yang meyakinkan dalam membina perkembangan anak-anak mereka, maka masyarakat akan berpartisipasi kepada sekolah. Namun keadaan demikian belum terjadi sepenuhnya di negara-negara berkembang, bahkan masih sangat banyak masyarakat (orang tua murid) yang belum meyakini, belum tahu atau belum mengerti apa dan bagaimana sekolah melakukan proses pendidikan bagi anak-anaknya. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketidaktahuan mereka tentang pentingnya keterlibatan orang tua/masyarakat dalam memajukan pendidikan, ketidakmampuan mereka dalam membantu sekolah/pendidikan karena status social ekonomi mereka yang tergolong rendah, bahkan dapat juga disebabkan karena ketidak pedulian mereka akan pendidikan padahal mereka sebenarnya memiliki tingkat pendidikan yang memadai dan status social ekonomi yang tinggi.
Untuk melibatkan masyarakat dalam peningkatan mutu sekolah, maka para manajer sekolah (kepala sekolah) sudah seharusnya aktif menggugah perhatian masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan sebagainya untuk bersama-sama berdiskusi atau bertukar pikiran untuk memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi sekolah sambil memikirkan apa dan bagaimana seharusnya kegiatan dan program kerja di masa depan.
Komunikasi tentang pendidikan kepada masyarakat tidak cukup hanya dengan informasi verbal saja, tetapi perlu dilengkapi dengan pengalaman nyata yang ditunjukkan kepada masyarakat agar timbul citra positif tentang pendidikan di kalangan mereka, sebab masyarakat pada umumnya ingin bukti nyata sebelum mereka memberikan dukungan (National school Public Relation Association). Bukti itu dapat ditunjukkan berupa pameran hasil produk sekolah, tayangan keberhasilan siswa sebagai juara cerdas cermat, juara olah raga, tayangan penemuan inovatif produktif siswa dan sekolah dan sebagainya.
Yang menarik bagi masyarakat sebenarnya adalah apabila sekolah sanggup mencetak lulusan yang siap pakai. Lulusan yang bermutu (misalnya sebagian besar siswanya dapat melanjutkan sekolah ke sekolah yang lebih tinggi dan berkualitas).
Di negara-negara maju, terutama yang menganut sistem desentralisasi sekolah dikreasikan dan dipertahankan oleh masyarakat (Walsh, 1979). Kesadaran mereka sebagai pemilik dan penangggung jawab pendidikan sudah sangat tinggi, sedangkan di negara yang sedang berkembang masyarakat masih sangat menggantungkan mutu pendidikan kepada pihak pemerintah, padahal pemerintah sendiri sangat kekurang dana untuk hal tersebut.
Beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan ialah:
1. Mengawasi perkembangan pribadi dan proses belajar putra-putrinya di rumah dan bila perlu memberi laporan dan berkonsultasi dengan pihak sekolah. Hal memang agak jarang dilakukan oleh orang tua murid, mengingat kesibukan bekerja atau karena alasan lain. Tetapi hal ini perlu ditingkatkan peran serta masyarakat untuk terlibat dalam pengawasan anak-anak mereka. Kenakalan anak sekolah dan lain-lain yang terjadi selama ini antara lain akibat lemahnya pengawasan yang dilakukan pada saat anak berada di luar sekolah.
2. Menyediakan fasilitan belajar di rumah dan membimbing putra-putrinya agar belajar dengan penuh motivasi dan perhatian. Hal ini sering menjadi masalah bagi orang tua murid, khususnya dalam fasilitas belajar dan membimbing anak.
3. Menyediakan perlengkapan belajar yang dibutuhkan untuk belajar di sekolah (sekolah)
4. Berusaha melunasi SPP dan bantuan pendidikan lainnya
5. Memberikan umpan balik kepada sekolah tentang pendidikan, terutama yang menyangkut keadaan putra-putrinya. Umpan balik dari orang tua tentang keadaan yang sebenarnya putra-putrinya sangat jarang dilakukan, karena mereka beranggapan akan mempengaruhi penilaian sekolah dan guru tentang anaknya. Oleh sebab itu penegasan sekolah untuk memilah mana yang terkait dan berpengaruh terhadap penilaian dan mana informasi yang diperlukan untuk perbaikan dan pembinaan anak-anak perlu dilakukan oleh sekolah, dengan demikian tidak ada perasaan takut dari orang tua untuk memberikan informasi kepada sekolah tentang anaknya.
6. Bersedia datang ke sekolah bila diundang atau diperlukan oleh sekolah. Upayakan memberikan keyakinan kepada orang tua bahwa kedatangan mereka sangat penting untuk kemajuan anaknya di sekolah, dan hindarkan permintaan sumbangan dalam bentuk uang sebagai pokok persoalan yang dibahas apabila mengundang orang tua murid, lebih-lebih pada sekolah yang orang tuanya sebagian terbesar adalah masyarakat menengah ke bawah.
7. Ikut berdiskusi memecahkan masalah-masalah pendidikan seperti sarana, pra sarana, kegiatan, keuangan, program kerja dan sebagainya.
8. Membantu fasilitas-fasilitan belajar yang dibutuhkan sekolah dalam memajukan proses pembelajaran.
9. Meminjami alat-alat yang dibutuhkan sekolah untuk berpraktek, apabila sekolah memerlukannya
10. Bersedia menjadi tenaga pelatih/nara sumber bila diperlukan oleh sekolah
11. Menerima para siswa dengan senang hati bila mereka belajar di lingkungan masyarakat (praktikum misalnya)
12. Memberi layanan/penjelasan kepada siswa yang sedang belajar di masyarakat
13. Menjadi responden yang baik dan jujur terhadap penelitian-penelitian siswa dan sekolah
14. Bagi ahli pendidikan bersedia menjadi ekspert dalam membina sekolah yang berkualitas
15. Bagi hartawan bersedia menjadi donator untuk pengembangan sekolah
16. Ikut memperlncar komunikasi pendidikan
17. Mengajukan usul-usul untuk perbaikan pendidikan
18. Ikut mengontrol jalannya pendidikan (kontrol sosial)
19. Bagi tokoh-tokoh masyarakat bersedia menjadi partner manajemen pendidikan dalam mempertahankan dan memajukan sekolah
20. Ikut memikirkan dan merealisasikan kesejahteraan personalia pendidikan.
Di samping pendapat di atas, ada pendapat lain yang dikembangkan berdasarkan beberapa hasil kajian, yang secara rinci menyebutkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pendidikan yang sangat diharapkan sekolah adalah sebagai berikut:

1. Mengawasi/membimbing kebiasaan anak belajar di rumah
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam memberikan bimbingan kebiasaan anak belajar di rumah adalah sebagai berikut:
a. Mendorong anak dalam belajar secara teratur di rumah, termasuk dalam hal ini peranan orang tua membimbing dan memberikan pengawasan terhadap kegiatan belajar anak di rumah.
b. Mendorong anak dalam menyusun jadwal dan struktur waktu belajar serta menetapkan prioritas kegiatan di rumah, pengawasan pelaksanaan jadwal belajar dirumah menjadi sangat penting bagi orang tua murid. Hal ini harus mendapat perhatian bagi sekolah untuk diberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang apa dan bagaimana mereka bisa melakukan kegiatan tersebut.
c. Membimbing dan mengarahkan anak dalam penggunaan waktu belajar, bermain dan istirahat.
d. Membimbing dan mengarahkan anak melakukan sesuatu kegiatan yang menunjang pelajaran di sekolah. Orang tua diharapkan berperan aktif dalam membimbing anak dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang pembentukan dirinya kearah kedewasaan.

2. Membimbing dan Mendukung Kegiatan Akademik anak
a. Mendorong dan menumbuhkan minat anak untuk rajin membaca dan rajin belajar (minat baca). Penciptaan situasi yang kondusif iklim yang menumbuhkan minat baca sangat diperlukan di lingkungan keluarga agar ada kesamaan antara iklim yang tercipta di sekolah dengan di rumah. Hal ini akan mempercepat peningkatan mutu belajar anak.
b. Memberikan penguatan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi dirinya. Pemberian hadiah, pujian dan lain-lain sangat diperlukan untuk memperkuat perilaku positif anak.
c. Menyediakan bahan yang tepat serta fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan anak dalam belajar
d. Mengetahui kekuatan dan kelemahan anak serta problem belajar dan berusaha untuk memberikan bimbingan
e. Mengawasi pekerjaan rumah, aktivitas belajar anak
f. Menciptakan suasana rumah yang mendukung kegiatan akademik anak
g. Membantu anak secara fungsional dalam belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah tepat waktu.

3. Memberikan dorongan untuk meneliti, berdiskusi tentang gagasan dan atau kejadian-kejadian aktual
a. Mendorong anak untuk suka meneliti serta memiliki motivasi menulis analitis/ilmiah
b. Menyediakan fasilitas bagi anak-anak untuk melakukan penelitian
c. Mendorong anak untuk melakukan kegiatan ilmiah
d. Berdiskusi dan berdialog dengan anak tentang ide-ide, gagasan atau tentang bahan pelajaran yang baru, aktivitas yang bermanfaat, masalah-masalah aktual dan sebagainya.

4. Mengarahkan aspirasi dan harapan akademik anak
a. Memberikan motivasi kepada anak untuk belajar dengan baik sebagai bekal masa depan.
b. Mendorong dan mendukung aspirasi anak dalam belajar
c. Mengetahui aktivitas sekolah dan aktivitas anak dalam mempelajari sesuatu.
d. Mengetahui standar dan harapan sekolah terhadap anak dalam belajar
e. Hadir pada pertemuan guru dengan orang tua murid yang diselenggarakan oleh sekolah
f. Memberikan ganjaran positif terhadap performen anak di rumah atau di sekolah yang mendukung belajar anak.

Mengingat besarnya pengaruh orang tua murid terhadap prestasi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, Radin seperti dikutif oleh Seifert & Hoffnung (1991) menjelaskan ada enam kemungkinan cara yang dapat dilakukan orang tua murid dalam mempengaruhi anaknya, yaitu:
1. Modelling of behaviors (pemodelan perilaku), yaitu gaya dan cara orang tua berperilaku dihadapan anak-anak, dalam pergaulan sehari-hari atau dalam setiap kesempatan akan menjadi sumber imitasi bagi anak-anaknya. Yang diimitasi oleh oleh anak-anak tentunya tidak hanya perilaku yang baik-baik saja, tetapi juga yang berkaitan dengan perilaku yang buruk, kasar dan sebagainya di lingkungan masyarakat atau di lingkungan rumah seperti marah-marah, berbicara kasar dan sebagainya, maka kecenderungan peniruan perilaku tersebut oleh anak akan sangat besar. Oleh sebab itu orang tua ataupun lingkungan keluarga dan masyarakat yang menunjukkan perilaku negatif akan sangat mempengaruhi perilaku anak di rumah, di sekolah, maupun dimasyarakat. Dalam kaitan dengan hal ini diperlukan kesamaan nilai dan norma yang berlaku di sekolah dengan yang berlaku di keluarga dan masyarakat. Agar ketiga lingkungan tersebut memiliki kesamaan maka sekolah memiliki kewajiban untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang apa dan bagaimana nilai dan norma yang berlaku di sekolah, dan harapan kepada keluarga (orang tua murid) dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga nilai dan norma tersebut.
2. Giving rewards and punishments (memberikan ganjaran dan hukuman). Cara orang tua memberikan ganjaran dan hukuman juga mempengaruhi terhadap perilaku anak. Ganjaran terhadap perilaku yang baik dari orang tua dapat memperkuat perilaku tersebut untuk diulang kembali pada kesempatan lain oleh anak, agar dia kembali mendapatkan ganjaran/hadiah dari orang tuanya. Sebaliknya hukuman (yang bersifat mendidik) akan memperlemah pengulangan kembali perilaku yang sama pada kesempatan lainnya.
3. Direct instruction (perintah langsung), pemberian perintah secara langsung atau tidak langsung memberi pengaruh terhadap perilaku, seperti ungkapan orang tua “ jangan malas belajar kalau ingin dapat hadiah” pernyatan ini sebenarnya perintah langsung yang lebih bijaksana, sehingga dapat menumbuhkan motivasi anak untuk lebih giat belajar. Hal ini disebabkan karena anak memahami apa yang diinginka oleh orang tua. Bagaimana sekolah memberikan informasi kepada orang tua tentang hal ini akan berpengaruh seberapa banyak hal ini juga dilakukan oleh sekolah terhadap anak-anaknya. Banyak masyarakat tidak mengerti bagaimana penghargaan dan hukuman yang akan memberikan dampak bagi proses pendidikan, misalnya pemberian orang tua yang berlebihan secara material yang sebenarnya akan berpengaruh negative, malah oleh orang tua tidak dipahami. Akibatnya setelah terjadi penyimpangan perilaku akibat pemberian yang berlebihan tersebut baru mereka sadar.
4. Stating rules (menyatakan aturan-aturan), menyatakan dan memjelaskan aturan-aturan oleh orang tua secara =berulang kali akan memberikan peringatan bagi anak tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan oleh anak.
5. Reasoning (nalar). Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya, misalnyan orang tua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan perilaku dengan nilai-nilai yang dianut melalui pernyataan-pernyataan. Contohnya “ sekarang rangking kamu jelek, karena kamu malas belajar, bukan karena kamu bodoh!“.
6. Providing materials and settings. Orang tua perlu menyediakan berbagai fasilitas belajar yang diperlukan oleh anak-anaknya seprti buku-buku dan lain sebagainya. Tetapi buku apa dan fasilitas apa yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, banyak orang tua tidak memahaminya. Untuk itu dalam kegiatan hubungan dengan orang tua murid, kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu disampaikan agar mereka dapat menyesuaikannya.



BAB VI
MENGGALANG DUKUNGAN MASYARAKAT

A. Upaya Menggalang Masyarakat
Hal yang perlu diperhatikan untuk menggalang dukungan masyarakat agar bersedia dan turut mendukung sekolah adalah isu yang akan digunakan. Oleh sebab itu pemilihan isu yang tepat akan berpengaruh terhadap perhatian dan dukungan mereka terhadap sekolah. Sekolah perlu memiliki kepekaan yang tajam dalam menangkap isu yang ada dimasyarakat untuk diangkat menjadi isu pendidikan dalam rangka menggalang dukungan masyarakat terhadap pendidikan di sekolah. Isu yang menarik untuk dipakai sebagai upaya menggalang dukungan harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut:
1. Isu memang benar-benar penting dan berarti bagi masyarakat. Isu sebaiknya dalam lingkup yang terbatas lebih dahulu serta isu tersebut memiliki kekhasan. Misalnya isu tentang standar kelulusan ujian nasional mata pelajaran Bahasa Inggris, matematika dan bahasa Indonesia, isu ini tergolong terbatas hanya pada 3 (tiga) mata pelajaran, tetapi karakter/kekhasannya sangat menarik masyarakat untuk terlibat dalam isu tersebut.
2. Isu harus tetap mencerminkan adanya tujuan perubahan yang lebih besar dalam jangka panjang.
3. Isu yang diungkapkan memiliki landasan untuk membangun kerjasama lebih lanjut dimasa depan,
4. Apabila memungkinkan ajak beberapa tokoh masyarakat untuk merumuskan isu penting yang perlu diangkap sebagai dasar untuk membangun kerjasama dan dukungan.

Agar dukungan masyarakat terhadap sekolah (sekolah) benar-benar memiliki nilai yang tinggi, maka kerjasama dengan kelompok pendukung tersebut harus benar-benar efektif. Ada beberapa Ciri-ciri kerjasama dalam suatu kelompok dengan para pendukung yang efektif, yaitu:
1. Terfokus pada tujuan atau sasaran yang disepakati.
2. Tegas dalam menetapkan jenis isu yang akan digarap/ditanggulangi serta diantisipasi bersama.
3. Ada pembagian peran dan tugas yang jelas diantara semua partisipan
4. Jaga dinamika dalam setiap proses kerjasama, karena itu kelenturan (fleksibilitas) harus benar-benar dijaga.
5. Adanya mekanisme komunikasi yang baik dan lancar, dan jelas, sehingga semua tahu harus menghubungi siapa tentang apa dan pada saat kapan serta dimana.
6. Dibentuk untuk jangka waktu tertentu yang jelas.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka ada beberapa saran yang perlu mendapatkan perhatian dan pertimbangan untuk menjaga tingkat efektivitas kerjasama tersebut di atas:
1. Hindari membentuk struktur organisasi formal, kecuali memang benar-benar dibutuhkan. Meskipun demikian suasana non formal dalam struktur formal harus tetap dijaga dan terpelihara. Dalam rangka membangun dukungan tidak perlu membentuk unit baru dalam struktur di sekolah, tetapi gunakan struktur yang ada untuk menangani kegiatan tersebut.
2. Delegasikan tanggung jawab dan peran seluas mungkin, kecuali pada hal-hal yang memang sangat strategis dan hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu. Hal ini untuk membangun partisipasi seluruh anggota organisasi, dengan keterlibatan semua orang maka rasa tanggung jawab keberhasilan juga akan tumbuh pada semua orang yang dilibatkan.
3. Setiap produk keputusan hendaknya hasil keputusan bersama, bukan hasil pemikiran seseorang. Berdayakan semua orang yang memiliki kompetensi untuk mengambil keputusan, dan sejauh mungkin memiliki data dan informasi yang valid dan akurat untuk keputusan yang akan diambil. Dengan demikian semua orang akan memahami secara mendasar kebijakan atau keputusan yang akan diambil.
4. Pahami berbagai kendala, kekurangan atau keterbatasan yang dimiliki semua pihak. Dengan kata lain lakukan analisis SWOT ( Strength, Weaknes, Opportunities, Threath/ kekuatan, kelemahan, peluang dan hambatan) analisis terhadap kelompok pendukung dan pihak sekolah.
5. Ambil prakarsa dan inisiatif untuk selalu menghidupkan saluran komunikasi dengan semua pihak. Kegagalan pelaksanaan kegiatan, adanya saling curiga, tuduh menuduh dan lain-lain sering bukan disebabkan ketidak mampuan kepemimpinan, tetapi sebagai akibat buntunya komunikasi dengan semua orang.
B. Promosi Sekolah Kepada Masyarakat
Seperti apa yang pernah dikatakan oleh pakar hubungan sekolah dengan masyarakat bahwa pemahaman masyarakat akan pendidikan akan menumbuhkan penghargaan, dan penghargaan mereka merupakan dasar tumbuhnya dukungan. Dalam pepatah yang sangat lazim digunakan masyarakat kita bahwa : tak kenal maka tak sayang, konsep tersebut memberikan pandangan kepada kita bahwa apabila kita menginginkan lembaga kita dikenal masyarakat, maka kita harus melakukan kegiatan promosi kepada masyarakat tentang sekolah kita. Pentingnya promosi ini telah dilakukan oleh dunia usaha, sehingga tidak heran kalau perusahaan menganggarkan biaya promosi yang sangat besar. Promosi ini hendaknya dilakukan sejak awal anak-anak/putra-putri mereka masuk di sekolah atau bahkan sebelum mereka memasukkan anaknya ke sekolah kita. Beberapa hal penting yang harusnya kita promosikan adalah:
1. Prestasi yang sudah dicapai oleh sekolah, khsususnya prestasi akademik dan non akademik seperti tingkat prosentasi kelulusan, nilai ujian akhir nasional dibandingkan sekolah lain, prestasi lomba karya ilmiah dan lain-lain.
2. Keunggulan sekolah. Yang dimaksudkan keunggulan ini adalah segala sesuai (program atau kegiatan) yang berbeda dengan sekolah lain dan menjadi andalan bagi sekolah. Misalnya sekolah memiliki program keterampilan Information Communication Technologi ( ICT), sedangkan sekolah lain tidak. Berarti sekolah kita memiliki keunggulan dalam kemampuan ICT bagi lulusannya. Hal ini harus dikomunikasikan oleh sekolah secara jelas kepada masyarakat. Keunggulan ini dapat pula disebut sebagai kehususan bagi sekolah yang tidak dimiliki oleh sekolah lain. Pemilihan keunggulan sekolah harus benar-benar dipikirkan oleh sekolah agar apa yang kita unggulkan betul-betul dapat dilihat oleh masyarakat sebagai suatu keunggulan, artinya keunggulan tersebut menjadi nilai tambah bagi siswa yang memilikinya, menjadi trend bagi masyarakat (misalnya sekarang yang menjadi trend adalah kemampuan ICT dan kepribadian, maka keunggulan tersebut memang dapat dilihat oleh masyarakat terhadap lulusan/siswa-siswa kita.
3. Ketersediaan berbagai sarana dan prasarana sekolah yang akan memberikan kontribusi dalam menghasilkan kualitas lulusan, misalnya sekolah memiliki laboratorium bahasa Inggris, laboratorium komputer dan internet, atau mungkin sekolah memiliki asrama khusus untuk siswa.
4. Lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yang asri misalnya perlu dikomunikasikan secara jelas (misalnya dengan gambar) kepada masyarakat. Termasuk dalam kategori lingkungan ini adalah keamanan, ketertiban dan kenyamanan. Misalnya letak sekolah strategis karena bisa dilewati oleh semua jalur kendaraan angkutan umum.
5. Jaminan kualitas pembelajaran yang dilakukan. Dalam hal ini misalnya sekolah mempromosikan bahwa: status akreditasinya adalah A, tenaga pengajar 80% berijazah S2, berpengalaman, sekolah menyiapkan lembaga konsultasi psikologi dlll. Tetapi apa yang diinformasikan harus keadaan obyektif, jangan membuat sesuatu untuk dipromosikan, tetapi kenyataan yang sebenarnya bertentangan dengan apa yang dipromosikan.
Untuk lebih menjamin efektivitas kegiatan promosi sekolah, maka seharusnya dilakukan oleh suatu tim tertentu yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan promosi sekolah. Oleh sebab itu sebaiknya dalam struktur organisasi sekolah ada wakil kepala sekolah/bagian/unit yang mengelola kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Promosi ini hendaknya dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan berbagai media yang ada ditengah-tengah masyarakat dan menjadi perhatian masyarakat.

C. Peranan Kepala Sekolah Menggalang dukungan Masyarakat
Untuk dapat mengaktifkan orang tua murid, tokoh masyarakat, komite sekolah dan stakeholders, salah satu strategi yang dapat ditempuh di luar badan-badan formal seperti komite sekolah adalah menarik perhatian masyarakat melalui mutu pendidikan yang dihasilkan oleh staf pengajar. Artinya hubungan akrab dengan masyarakat dimulai dengan memajukan dan menunjukkan mutu pendidikan yang meyakinkan mereka, hal ini dapat ditunjukkan melalui produk kualitas lulusan. Untuk itu disarankan untuk dilakukan beberapa langkah berikut:
1. Bina pengajar secara aktif, sehingga mereka berdedikasi dan professional. Dalam kaitan ini maka kepala sekolah perlu mengembangkan budaya kerja yang berkualitas di lingkungannya. Budaya kerja harus dimulai oleh pimpinan untuk selanjutnya kembangkan suasana kerja (iklim kerja) yang kondusif sehingga melahirkan kemauan untuk bersikap dan bertindak professional oleh semua warga sekolah.
Dalam kaitan ini Suyata (1996) menyatakan bahwa karakteristik budaya kerja sekolah yang dapat membangun mutu adalah:
a. Kedisiplinan. Kedisiplinan semua warga sekolah merupakan salah satu cerminan/indikator budaya kerja di sekolah. Kedisiplinan tidak akan terbentuk secara otomatis, tetapi terbentuk melalui suatu proses. Dalam proses pembentukan kedisiplinan lebih banyak berlangsung secara imitasi atau peniruan. Karena itu maka agar terjadi imitasi yang baik harus dimulai dari kepala sekolah yang selalu mencerminkan sikap kedisiplinan dalam melaksanakan tugas-tugasnya di sekolah. Tidak akan pernah ada sekolah yang berdisiplin tinggi tanpa kepala sekolah yang berdisiplin. Dengan demikian kepala sekolah hendaknya menjadi contoh dan tauladan bagi semua warga sekolah.
b. Monitoring progress siswa, seberapa banyak frekuensi yang deprogram sekolah untuk memonitor progress yang diperoleh siswa, akan memberikan informasi yang selalu up to date tentang perkembangan siswa. Di samping itu perlu diperhatikan apa dan bagaimana proses monitoring tersebut di lakukan dan siapa yang diberi tanggung jawab untuk melakukan monitoring progress tersebut. Yang pasti monitoring perkembangan siswa harus dilakukan dan diinformasikan kepada pelanggan eksternal dan internal sekolah. Pada dasarnya masyarakat sebagai pelanggan eksternal mengharapkan informasi yang akurat dan up to date tentang perkembangan yang terjadi di sekolah setiap saat. Kebutuhan akan informasi ini ,menjadi peluang bagi sekolah untuk menjalin kerjasama yang harmonis.
c. Harapan yang tinggi terhadap siswa. Harapan yang tinggi terhadap performansi siswa dan warga sekolah perlu dibangun dan ditumbuh kembangkan agar dapat berfungsi sebagai penggerak bagi semua orang untuk mencapainya.
d. Focus perhatian warga sekolah pada proses pembelajaran. Semua warga sekolah harus berupaya memfokuskan perhatian bahwa prestasi sekolah dihasilkan dari proses pembelajaran, karena itu semua komponen harus mendukung terciptanya proses pembelajaran berkualitas dari peran dan fungsinya masing-masing.

Untuk itu Niron (2001) menyatakan bahwa kepala sekolah harus memperhatikan beberapa hal pokok berikut ini agar dapat mencapai target mutu yaitu:
a. Mengidentifikasi pelanggan sekolah. Siapa pelanggan sekolah sebenarnya, Sallis (1993) menyatakan setiap orang di sekolah memiliki peran ganda yaitu sebagai pelayan sekaligus sebagai pelanggan, yaitu mereka sebagai pelayan untuk orang lain (guru terhadap muridnya), tetapi dia juga sebagai pelanggan pelayanan (guru dari pelayanan kepala sekolah). Untuk itu maka kepala sekolah sudah seharusnya memberikan pelayanan yang bermutu kepada semua staf sekolah. Sebab pada dasarnya staflah (guru-guru dan staf tata usaha) yang membuat kualitas menjadi baik atau menurun. Dengan demikian maka pelanggan internal ini perlu mendapat perhatian utama agar mereka mendapatkan kepuasan dalam bekerja. Kepuasan yang diperoleh pelanggan internal (guru dan siswa serta staf yang ada di lingkungan sekolah) akan memberikan pengaruh terhadap pelayanan yang mereka berikan terhadap pelanggan eksternal.
b. Mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Kepala sekolah perlu mengetahui secara jelas apa yang diinginkan oleh pelanggan, khususnya pelanggan internal yaitu guru-guru, staf dan siswa. Sebab merekalah sebenarnya ujung tombak bermutu tidaknya produk sekolah yang dihasilkan. Hal ini sangat strategis mengingat peran mereka selain sebagai pelanggan yang harus mendapatkan pelayanan dari kepala sekolah, mereka juga sebagai pelayan yang memberikan pelayanan kepada orang lain seperti guru kepada siswanya.
c. Menetapkan target produk yang diinginkan, khususnya kualitas produk yang ingin dicapai. Dari sisi menajamen pendidikan tampilan produk suatu sekolah menjadi citra bagi sekolah di tengah-tengah masyarakatnya. Produk yang berkualitas menjadi cerminan akan kualitas pelayanan yang diberikan. Hal yang harus disadari sepenuhnya oleh semua warga sekolah adalah bahwa pusat utama kegiatan di sekolah adalah pelayanan proses pembelajaran. Karena itu kualitas pembelajaran harus menjadi target utama perhatian kepala sekolah.
d. Mengembangkan misi, visi dan tujuan secara jelas.
Triguno (1977) menyatakan bahwa warna budaya kerja adalah suatu produktivitas berupa perilaku kerja yang dapat diukur seperti kerja keras, ulet, disiplin, produktif, tanggung jawab, bermotivasi, kreatif, inovatif, responsive dan mandiri. Ini berarti bahwa budaya kerja seperti terseburt merupakan dasar yanag akan menghasilkan kualitas proses kerja. Dengan demikian maka apabila seseorang ingin berkualitas kerja maka dia harus memiliki proses kerja yang berkualitas, proses kerja yang berkualitas hanya mungkin ada apabila seseorang memiliki budaya kerja.
2. Agar lebih berhasil dalam melakukan perubahan yang berorientasi pada mutu, Sukardi (2001) menyarankan kepada para kepala sekolah hendaknya mengakomodasi lima prasyarat penting untuk terjadinya Manajemen Mutu Terpadu. Implementasinya manajemen mutu menggunakan prinsip-prinsip ilmiah yaitu:
a. Penggunaan 4 langkah siklus yaitu: merencanakan (planning), melaksanakan (do), Mengontrol (controlling) dan bertindak (Action) atau oleh Deming sering disebut dengan singkatan PDCA.
b. Data emperik merupakan dasar dalam setiap pengambilan keputusan, menentukan prioritas dan perubahan-perubahan dalam organisasi. Tanpa data yang akurat dan valid maka keputusan yang diambil tidak akan memberikan dampak terhadap peningkatan mutu proses kegiatan serta hasilnya.
c. Melakukan prediksi, sebagai upaya antisipasi untuk lebih menyempurnakan produk di masa yang akan datang. Dengan demikian produk dan mutu yang dihasilkan akan selalu up to date dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta selalu unggul dibandingkan dengan pesaing lainnya.
d. Berfokus pada kepuasan pelanggan. Artinya bahwa segala kegiatan dan pelayanan harus selalu ditingkatkan secara terus menerus agar didapat kepuasan pelanggan. Dalam dunia pendidikan di sekolah, pelanggan internalnya adalah guru, siswa, staf dan sebagainya. Untuk itu maka kepuasan kerja guru, staf dan kepuasan siswa dalam belajar adalah pertimbangan sentral utama yang harus diperhatikan oleh seorang kepala sekolah. Makin tinggi kepuasan para pelanggan, akan memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu proses kegiatan yang dilakukan oleh mereka.
e. Lebih menekankan pendekatan siklus dalam memperbaiki organisasi. Konsep ini beranggapan bahwa perbaikan dan perubahan organisasi tidak dapat dilakukan seperti membalik telapak tangan, tetapi memerlukan waktu yang cukup dan berkelanjutan. Untuk itu maka perbaikan dan perubahan organisasi ditempauh melalui siklus tertentu atau menggunakan tahapan-tahap perbaikan.
3. Para pemimpin struktural dalam organisasi sekolah perlu memiliki pandangan jauh ke depan tentang kemana lembaga sekolah akan diarahkan. Dalam hal ini para pemimpin harus mengerti Visi, Misi dan Tujuan Institusinya masing-masing secara mendalam.
4. Para civitas akademika (semua warga sekolah) perlu memiliki kemampuan profesi yang mancakup kemampuan individual, kemampuan kelompok yang diciptakan secara sistimatis melalui program pendidikan dan pelatihan. Artinya perlu pembinaan berkelanjutan melalui diklat, lokakarya, seminar, atau pembinaan internal oleh sekolah melalui diskusi bulanan, semesteran dan sebagainya.
5. Adanya apresiasi insentif baik materi maupun insentif psikologis seperti kemungkinan dan kemudahan promosi, penghargaan atas prestasi pekerjaan
6. Tersedianya sumber daya dan mekanisme penempatan yang sesuai dengan keahliannya masing-masing. Meskipun demikian perlu juga dipertimbangkan aspek psikologis seperti kemauan dan komitmen tugas selain keahlian dalam menempatkan seseorang pada pekerjaan tertentu. Keahlian saja tidak akan membawa orang berprestasi tanpa adanya kemauan dan komitmen yang kuat untuk berprestasi kerja.
7. Adanya rencana kerja dan strategi sekolah yang tergambar dalam Visi, Misi dan tujuan organisasi serta rencana operasional (Renstra dan Renops).
8. Pacu para pengajar untuk berprestasi dan melaksanakan pembelajaran secara efektif, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berprestasi. Banyak contoh sekolah favorit diserbu oleh masyarakat dengan biaya mahal karena lulusannya berprestasi tinggi, dapat melanjutkan ke sekolah yang bermutu (lanjutan maupun perguruan tinggi). Apabila hal ini dapat dilakukan masyarakat akan sangat mudah diminta bantuannya, tenaga, waktu bahkan materi sekalipun. Untuk memacu percepatan mutu melalui percepatan peningkatan mutu tenaga ini maka suasana kondusif yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya motivasi kerja, kemauan (willingness) dan komitmen kerja merupakan prasyarat yang harus dipenuhi. Pendekatan manajemen modern memungkinkan terciptanya suasana yang menumbuhkan kemauan, komitmen dan motivasi karyawan dalam meningkatkan mutu kerjanya. Untuk itu maka pimpinan sekolah perlu mengetahui secara jelas apa dan bagaimana kebutuhan para karyawan di sekolahnya, sehingga apa yang menjadi kebutuhan karyawan sejalan dengan apa yang diinginkan oleh lembaga sekolah.
9. Bina semua staf sekolah agar mereka memahami secara jelas dan tepat apa yang diinginkan oleh sekolah terhadap masyarakat. Sebab setiap tenaga pendidikan di sekolah mau tidak mau dan sengaja atau tidak sengaja bahkan disadari atau tidak disadari adalah juru bicara sekolah yang suatu saat akan ditanya masyarakat tentang sekolahnya. Apabila staf sekolah tidak memahami sejara jelas dan tepat tentang berbagai program serta kebijakan sekolah, ada kemungkinan akan memberikan penjelasan yang tidak tepat. Hal ini akan berakibat pada image yang kurang baik terhadap sekolah. Oleh sebab itu semua staf sudah semestinya harus mengetahui apa dan bagaimana kebijakan sekolah dalam pengelolaan sekolah.

D. Penyusunan Program Peran serta Masyarakat.
1. Pengertian Program
Pada dasarnya setiap kegiatan apapun jenisnya dan pada organisasi apapun, apalagi bagi organisasi pendidikan seperti institusi sekolah, maka perencanaan program kegiatan merupakan suatu keharusan yang tidak dapat dihindari.
Perencanaan program pada dasarnya adalah proses penetapan kegiatan di masa akan datang, dengan mengatur berbagai sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang seoptimal mungkin sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Rogers, A. Kauffman seperti dikutif Fattah (1996) menyatakan bahwa perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang hendak dicapai dan menetapkan jalan dan sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin.
Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa perencanaan program itu adalah merancang kegiatan yang akan dilaksanakan, bagaimana melaksanakan, apa dan siapa yang harus melaksanakan, kapan, dimana dan apa yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dari definisi perencanaan program tersebut maka program adalah kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu organisasi/lembaga dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
Program pada dasarnya adalah rencana berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan dimasa yang akan datang. Rumusan rencana program yang matang akan menghasilkan suatu program kerja yang efektif. Rumusan program yang matang ini sebaiknya didasarkan pada landasan fakta/data, landasan berpikir yang sehat dan cerdas, jelas arah dan tujuannya sesuai dengan visi dan misi yang akan dicapai oleh lembaga yang bersangkutan.

2. Aspek Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Penyusunan Program
Koontz seperti dikutip Fattah (1996) menyatakan bahwa penyusunan program merupakan proses intelektual dalam menentukan secara sadar tindakan apa yang akan ditempuh dan mendasarkan keputusan-keputusan pada tujuan yang akan dicapai, informasi yang tepat waktu dan dapat dipercaya serta memperhatikan perkiraan keadaan masa akan datang. Ini berarti kegiatan perencanaan program harus membutuhkan pendekatan rasional ilmiah. Di samping itu perencanaan perlu memperhatikan sifat, kondisi dan kecenderungan masa akan datang (pendekatan futuralistik).
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat perencanaan program, agar program tersebut benar-benar terarah kepada apa yang ingin dicapai. Beberapa hal pokok tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kegaiatan yang akan diprogramkan hendaknya didasarkan pada hasil analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan (SWOT) serta data-data pendukung lainnya yang akurat dan up to date. Dengan demikian maka program yang akan dilaksanakan sudah mengantisipasi berbagai hal baik yang menyangkut hambatan maupun dukungan. Apabila hal ini dapat dilakukan maka, kemungkinan kegagalan dalam melaksanakan program yang direncanakan akan dapat diminimalkan sekecil mungkin dan peluang keberhasilan akan semakin luas.
b. Kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan harus benar-benar kegiatan yang sangat urgen dalam mendukung upaya pencapaian tujuan sekolah yang bersangkutan. Oleh sebab itu pemahaman yang mendalam tentang visi, misi, tujuan dan strategi sekolah harus benar-benar mantap. Dalam istilah lain disebut bahwa program yang direncanakan harus termasuk special events (event penting yang mampu mempercepat pencapaian tujuan). Misalnya diprogramkan kegiatan pameran, pertemuan dan sebagainya, perlu dipertanyakan apakah kegiatan itu memang benar-benar dapat mempercepat pencapaian tujuan dan mendapat perhatian dari khalayak sasaran. Apabila jawabannya meragukan, perlu dikaji lagi lebih mendalam apakah kegiatan tersebut layak untuk diprogramkan atau tidak.
c. Rencana program yang akan dilaksanakan harus mempunyai tujuan yang jelas dan mendukung pencapaian tujuan lainnya. Artinya tujuan kegiatan tersebut merupakan rangkaian dan memiliki keterkaitan dengan tujuan yang lain, sehingga saling mendukung dalam mencapai tujuan yang lebih tinggi atau tujuan sekolah secara keseluruhan.
d. Rencana kegiatan harus memiliki nilai ganda dan multy player effect. Artinya kegiatan yang akan diprogramkan harus memberikan nilai tambah baik untuk sekolah maupun nilai tambah bagi masyarakat, orang tua murid atau stakeholders. Dengan demikian akan mendorong keterlibatan semua komponen dan warga sekolah lainnya untuk ikut aktif dalam semua kegiatan yang akan dilaksanakan di kemudian hari.
e. Rencana kegiatan harus mampu membangun citra positif bagi lembaga dan bagi masyarakat sekolah. Citra positif dapat diindikasikan dari dampak program dalam bentuk prestasi sekolah, prestasi siswa secara individual yang pada gilirannya akan menumbuhkan rasa bangga para orang tua murid terhadap anaknya dan sekolah dimana anaknya sedang belajar. Prestasi ini tidak hanya menyangkut aspek akademik atau penguasaan pengetahuan saja, tetapi juga aspek non akademik seperti olah raga, seni, ketrampilan lebih-lebih lagi prestasi dalam bidang keagamaan yang menjadi pusat perhatian masyarakat sekarang ditengah-tengah kegelisahan mereka akan kenakalan remaja.
f. Program yang disusun, hendaknya berorientasi pada produk yang akan dihasilkan. Jadi perlu diperhatikan terlebih dahulu produk apa yang diinginkan melalui program yang sedang direncanakan. Apabila kita telah memiliki gambaran tentang produk secara jelas, akan memudahkan perencana program dalam menetapkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Produk dalam kegiatan pendidikan, khususnya peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan harus dirumuskan secara jelas, apakah partisipasi dalam membantu pengembangan sarana, pengembangan sumber daya (termasuk SDM) atau partisipasi dalam aspek lain. Sekedar mengingat kembali kita dapat melihat dari peran dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah yaitu: advisor, support, mediator dan control. Apakah produk yang kita inginkan pada empat aspek tersebut atau salah satu aspek saja. Oleh sebab itu rumuskan secara rinci tentang produk yang diinginkan oleh sekolah.
g. Sumber daya yang tersedia di dalam sekolah. Sejauhmana sumber daya yang tersedia baik dilihat dari kuantitas maupun kualitas yang akan mendukung implementasi kegiatan di masa depan. Ketersediaan jumlah dan kualitas sumber daya merupakan factor penentu keberhasilan dalam melaksanakan berbagai kegiatan yang telah diprogramkan. Program akan menjadi sia-sia dan hanya baik diatas kertas saja, apabila tidak ditunjang oleh adanya sumberdaya yang memadai dilihat dari kuantitas dan kualitas. Bahkan sumber daya yang berkualitas menjadi lebih besar pengaruhnya terhadap efektivitas pelaksanaan program. Oleh sebab itu program yang baik tidak harus selalu merencanakan kegiatan yang sangat ideal, apabila lembaga tidak memiliki sumber daya yang memadai.
h. Membuat Program Hubungan Sekolah (sekolah) dengan Orang Tua Murid/Masyarakat.
i. Perencanaan program yang efektif dan efisien menjadi pusat perhatian bagi semua orang yang merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan lembaga yang dipimpinnya atau anggota organisasi yang merasa memilki organisasinya.

Agar perencanaan program memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang menjadi tujuan organisasi, Ruslan (2002) menyatakan bahwa perencanaan program harus didasarkan pada analisis tentang hal-hal sebagai berikut:
a. A searching look backward, yaitu penelusuran masa lampau, pengalaman organisasi untuk mengetahui faktor penentu yang memegang peranan penting dalam setiap program. Dalam hal ini sekolah perlu mengkaji pengalaman masa lampau tentang keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan kegiatan atau program, factor apa yang biasanya menjadi pendukung dan factor apa yang menjadi penghambat. Pengalaman masa lampau ini akan memberikan pelajaran yang bermakna dalam melaksanakan program-program di masa akan datang. Banyak kegagalan dalam pelaksanaan program akibat ketidak mampuan pelaksana belajar dari pengalaman masa lampau, dan ada kecenderungan melupakan masa lampau, padahal pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam pembelajaran masa depan.
b. A deep look inside, penelaahan mendalam tentang fakta dan pendapat di lingkungan internal organisasi. Pemahaman yang mendalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan fakta dan informasi dari dalam maupun luar oragnisasi sekolah memberikan pemahaman tentang kebutuhan mendasar yang harusnya menjadi perhatian dalam merumuskan program institusi. Kebanyakan program gagal mencapai sasaran atau tujuan yang diingikan antara lain disebabkan apa yang diprogramkan bukan kebutuhan mendasar warga/anggota institusi tersebut. Mengapa hal ini terjadi, semua akibat pengambil kebijakan tidak mendasarkan pada pemahaman yang dalam tentang lingkungannya. Pengambil kebijakan cenderung mempelajari tentang masyarakat lingkungannya menurut persepsinya, tanpa mau belajar dari masyarakat lingkungannya dari persepsi masyarakat itu sendiri. Akibatnya perspesi pengambil kebijakan tidak sesuai dengan apa sebenarnya yang dipersepsi oleh masyarakat/ lingkungan institusi itu.
c. A wide look around, yaitu melihat kecenderungan-kecenderungan yang ada di sekitar kita, serta situasi dan kondisi saat ini untuk merancang rencana mendatang. Kesecendrung yang ada di sekitar memberikan indikasi tentang apa dan bagaimana keinginan sekitar tentang perubahan di masa mendatang. Karena itu kepekaan sekolah tentang kecenderungan tersebut sangat diperlukan.
d. A long, long ahead, yaitu melihat pada apa yang menjadi misi dan visi utama organisasi. Semua program pada bidang apapun di sekolah harus disusun untuk mencapai visi dan misi serta tujuan yang telah dirumuskan. Program yang dirumuskan tanpa memperhatikan visi dan misi, berarti program tersebut tidak memiliki arah. Karena itu arah tersebut harus menjadi pertimbangan utama dalam merumuskan kegiatan yang akan direncanakan.

Pada saat ini telah banyak dikembangakan model perencanan program yang efektif. Model yang sangat banyak dipakai dan dimasyarakatkan di berbagai lembaga dunia usaha, bahkan saat ini sudah merambah ke dalam dunia pendidikan adalah perencanaan program strategik. Dalam bidang pendidikan apabila menggunakan perencanaan strategik ternyata akan memberikan kecenderungan pada hasilnya yaitu program yang lebih operasional, sehingga peluang akan keberhasilan program menjadi lebih tinggi. Hal ini disebabkan dengan pendekatan ini semua peluang faktor eksternal dan internal telah diperhitungkan secara matang. Perencanaan strategik ternyata telah dibuktikan berhasil membawa organisasi mencapai tujuan yang diinginkan secara optimal. Sehubungan dengan hal ini R.G. Murdick (1983) menyebutkan beberapa langkah yang harus ditempuh dalam melakukan perencanaan strategik bagi suatu lembaga yaitu:
a. Analisis keadaan sekarang dan akan datang
b. Identifikasi kekuatan dan kelemahan lembaga
c. Mempertimbangkan norma-norma
d. Identifikasi kemungkinan dan resiko
e. Menentukan ruang lingkup hasil dan kebutuhan masyarakat
f. Menilai faktor-faktor penunjang
g. Merumuskan tujuan dan kriteria keberhasilan
h. Menetapkan penataan distribusi sumber-sumber

Secara sederhana aspek-aspek yang mutlak ada dalam perencanaan program kegiatan berisikan aspek-aspek sebagai berikut:
a. Masalah yang dihadapi. Rumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat terhadap pendidikan/sekolah. Misalnya rendahnya keterlibatan orang tua siswa dalam pengawasan putra-putrinya, sehingga sering terjadi kenakalan anak seperti membolos, tidak disiplin dan sebagainya. Masalah yang dirumuskan harus dilihat dari akar masalahnya, sehingga pemecahan masalah menjadi terfokus. Artinya jangan dampak dari masalah yang dirumuskan sebagai masalah, apabila ini terjadi maka yang diselesaikan hanya dampaknya dan dapat bersifat sementara, dan pada beberapa waktu berikutnya akan muncul masalah baru.
b. Kegiatan yang akan dilakukan. Uraikan secara rinci kegiatan apa yang akan dilakukan atau direncanakan untuk mengatasi masalah tersebut. Ingat kembali bahwa kegiatan yang direncanakan harus ditujukan pada upaya mengatasi akar permasalahan yang terjadi disekolah. Misalnya saja rendahnya nilai ujian akhir nasional mata pelajaran bahasa Inggris, apakah bersumber dari guru, siswa atau sarana penunjang pembelajaran. Hal ini dapat dianalisis secara mendalam untuk menentukan akar masalah. Untuk itu perlu diidentifikasi barbagai fakta yang terkait dalam aspek sarana penunjang pembelajaran (jumlah dan kualitasnya), factor guru (jumlah, kompetensi dan kualifikasi), factor siswa (motivasi, kemampuan intelektual, kedisiplinan, partisipasi orang tua dll) dan factor proses pembelajaran.
c. Tujuan kegiatan. Tujuan apa yang ingin dicapai untuk satu kegiatan yang direncanakan. Misalnya kegiatan pertemuan orang tua murid dengan guru dan pihak sekolah, tentukan tujuannya: meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pengawasan mereka terhadap anak dan bagaimana mengawasi anak-anak di luar rumah dan sekolah. Tujuan semestinya dirumuskan secara rinci dan terukur, sehingga dapat diketahui seberapa besar tujuan dapat dicapai setelah kegiatan dilaksanakan. Ada yang merumuskan tujuan harus memenuhi criteria specific, measurable (terukur), dan ada batas waktu pencapaian.
d. Target/Sasaran Kegiatan. Tentukan siapa sasaran kegiatan yang akan menjadi subjek dan objek kegiatan, serta berapa target yang ingin dicapai.
e. Indikator keberhasilan. Tentukan indikator apa yang dapat menunjukkan bahwa suatu kegiatan yang dilaksanakan dapat dikatakan berhasil atau gagal. Misalnya kegiatan pertemuan antara orang tua murid dengan pihak sekolah dikatakan berhasil apabila: siswa yang terlambat semakin sedikit (tentukan berapa orang atau prosentasi yang diinginkan), siswa disiplin, tidak ada siswa yang membolos, kehadiran orang tua murid pada saat pertemuan minimal 80%, dan seterusnya. Perumusan indikator ini sangat penting untuk mengetahui apakah kegiatan yang kita lakukan dapat tercapai tujuannya atau tidak, sehingga dapat dijadikan feed back untuk perbaikan pelaksanaan kegiatan di masa yang akan datang. Hasil evaluasi dan analisis dari pencapaian indikator keberhasilan ini sangat penting dilakukan untuk menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya.
f. Strategi/teknik pelaksanaan kegiatan. Tentukan strategi apa yang akan digunakan untuk melaksanakan kegiatan tersebut di atas, misalnya melalui panel diskusi, dialog dan sebagainya. Sesuaikan strategi yang digunakan dengan audience yang akan mengikuti kegiatan. Yang perlu kita ingat bahwa orang tua murid/masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan sekolah terdiri dari berbagai strata/jenjang, baik dilihat dari tingkat pendidikan, status social ekonomi, kepedulian terhadap pendidikan maupun status pekerjaan yang sedang mereka geluti. Hal ini menuntut strategi yang variatif agar semua jenjang dan strata masyarakat dapat terakomodasi. Sebab hal utama yang ingin kita capai dalam kegiatan ini adalah terjadinya perubahan pemahaman, sikap dan tindakan mereka untuk menyesuaikan dengan apa dan bagaimana harapan kita.
g. Waktu dan tempat Pelaksanaan kegiatan. Tentukan kapan kegiatan akan dilaksanakan dan dimana kegiatan tersebut akan dilakukan. Pemilihan tempat harus benar-benar dipertimbangkan dari berbagai aspek, mulai dari kelayakan tempat, kenyamanan dan keamanannya, sebab tempat yang kurang tepat dapat mengakibatkan ketidak hadiran orang yang diundang atau mengganggu kegiatan yang sedang berjalan. Demikian pula halnya dengan pemilihan waktu, harus benar-benar mempertimbangkan sasaran audience yang diundang, yang memiliki karakteristik sendiri.
h. Penanggung jawan dan pelaksana kegiatan. Tentukan siapa yang menjadi penanggung jawab kegiatan dan siapa yang menjadi pelaksana kegiatan. Pemilihan orang yang akan dilibatkan hendaknya memperhatikan prinsip berdasarkan kemampuan dan kemauan orang yang akan diberi kepercayaan. Kemampuan saja tidak cukup untuk menunjuk pelaksana tanpa diiringi oleh kemauan dari yang bersangkuatan, atau dengan kata lain pilih mereka yang komitmen tinggi dan kompetensi tinggi.
i. Pembiayaan. Rumuskan berapa biaya yang diperlukan dan dari mana sumber biaya tersebut. Dalam penentuan besaran biaya prinsip efesiensi hendaknya menjadi pertimbangan utama.









BAB VII
MODEL PELIBATAN MASYARAKAT

A. Melalui Komite Sekolah
Perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dalam era reformasi, dan era otonomi penyelenggaraan pendidikan sampai pada tingkat kabupaten/kota dan bahkan otonomi pada tingkat sekolah, memberikan keleluasaan bagi setiap sekolah untuk berkreasi dan berinovasi dalam penyelenggaraan sekolah. Dengan demikian diharapkan akan memacu percepatan peningkatan mutu penyelenggaraan sekolah yang pada gilirannya mempercepat peningkatan mutu hasil belajar secara keseluruhan.
Konsekuensi dari paradigma pendidikan yang memberikan otonomi sampai pada tingkat sekolah menuntut sekolah untuk memberdayakan semua sumber daya yang dimilikinya. Salah satu sumber daya yang sangat potensial dan dimiliki oleh sekolah adalah masyarakat dan orang tua murid.
Di Amerika Serikat, pengembangan sekolah di pedesaan atau di daerah-daerah urban berada di tangan dewan masyarakat sekolah (SCC=School Community Council). Dewan ini terdiri dari unsure-unsur tenaga professional pendidikan dan anggota masyarakat, dalam rangka pengembangan staf.
Aspek struktural dari pelibatan masyarakat berarti adanya kesamaan atau keseimbangan antar struktur yang terlibat dalam pembuatan keputusan. Aspek prosedural pelibatan masyarakat berarti mengandung makna adanya kesamaan masukan dari kelompok professional dan anggota-anggota masyarakat dalam menentukan aktivitas pengembangan staf untuk meningkatkan praktek-praktek penyelenggaraan sekolah yang berkualitas. Secara organisatoris dewan SCC ini memiliki tanggung jawab bersama sekolah untuk meningkatkan mutu pelayanan sekolah.
Di sisi lain SCC ini ternyata juga mempunyai tanggung jawab untuk melakukan analisis kebutuhan sekolah dan kebutuhan masyarakat melalui survey yang dilakukannya. Hasil analisis yang dilakukan dewan ini didiskusikan bersama pihak sekolah dengan melibatkan para ahli seperti konsultan dan sebagainya untuk diterjemahkan menjadi kebijakan dan program sekolah.
Kebijakan model pelibatan masyarakat dalam pendidikan melalui lembaga SCC seperti di Amerika ini sebenarnya sudah sejak lama dikenal dan dilakukan oleh pendidikan dan persekolahan di Indonesia, mulai dari POM, POMG, BP3, hingga sekarang yang dikenal dengan Komite Sekolah. Tetapi hasilnya belum terlalu nampak karena keterlibatan mereka lebih banyak pada membantu keuangan sekolah. Akhir-akhir ini pemerintah Indonesia dalam hal ini Depdiknas membuat kebijakan baru dengan mengganti istilah BP3 menjadi Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten/Kota dan Komite Sekolah di tingkat sekolah.
Pemerintah (Depdiknas) pada saat ini memberikan peluang kepada sekolah dalam pemberdayaan masyarakat melalui suatu lembaga yang dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah yaitu Dewan Sekolah atau Komite Sekolah.
B. Kerjasama Dengan Pemerintah/masyarakat secara umum
Dalam era otonomi sekolah, khususnya dengan implementasi pendekatan manajemen sekolah berbasis masyarakat, sekolah memang memiliki keleluasaan dan atau otonomi yang lebih luas. Otonomi pemerintahan yang berbasis pada pemerintah daerah Kabupaten/Kota meletakkan pembinaan dan penyelenggaraan pendidikan berada di tingkat Kabupaten dan Kota, sehingga nampaknya peranan Pemerintah provinsi dan pusat tidak dominan. Meskipun demikian bukan berarti pusat dan provinsi tidak memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan. Dalam paradigm otonomi seperti sekarang diperlukan kemampuan sekolah (baca kepala sekolah) untuk membangun kerjasama yang harmonis dengan berbagai institusi pemerintahan mulai dari tingkat pusat sampai dengan tingkat Kabupaten/kota/Kecamatan bahkan kelurahan.
Di samping institusi pemerintahan, sekolah juga perlu membangun kerjasama yang sinergis dengan lembaga masyarakat seperti karang taruna, kepramukaan dan berbagai lembaga LSM yang bergerak dalam membantu dan membangun pendidikan. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam kerjasama dengan lembaga ini adalah jangan sampai sekolah larut dan dapat dibawa kepada masalah-masalah lain selain untuk kepentingan pendidikan. Sekolah tidak boleh terbawa arus kepada kegiatan politik praktis dan kepentingan kelompok tertentu.
Kerjasama dengan berbagai institusi tersebut di atas menjadi kemutlakan bagi sekolah dalam upaya mengembangkan sekolah secara optimal, sebab sekolah adalah lembaga interaksi social yang tidak bias lepas dari masyarakat secara keseluruhan, khususnya masyarakat di sekitarnya. Banyak hal yang tidak dapat dilakukan sekolah tanpa bantuan masyarakat tersebut, katakanlah sekolah mengadakan perayaan ulang tahun sekolah, untuk menjaga keamanan, maka sekolah mutlak meminta bantuan kepolisian atau petugas keamanan lingkungan setempat.
Berbagai bentuk kerjasama yang dapat dikembangkan dengan berbagai institusi tersebut antara lain:
a. Pemberian dan atau penggunaan fasilitas bersama. Berbagai fasilitas yang tidak dimiliki oleh sekolah mungkin saja terdapat dan dimiliki oleh lembaga tertentu. Untuk menunjang kegiatan pendidikan sekolah dapat membangun kerjasama dengan pemilik fasilitas tersebut. Misalnya tempat pameran, gedung oleh raga dan lain-lain.
b. Pelaksanaan kegiatan peningkatan kemampuan siswa. Misalnya sekolah ingin meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa tentang kesehatan, dapat bekerjasama dengan puskesmas dalam memanfaatkan berbagai fasilitas termasuk fasilitas SDM, ingin melaksanakan pentas seni sekolah dapat bekerjasama dengan lembaga kesenian di masyarakat untuk memanfaatkan berbagai fasilitas kesenian (alat-alat seni, seperti seni tradisional).
c. Pemanfaatan sumber daya manusia secara mutualism, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya manusia di masyarakat dan sebaliknya masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya manusia yang dimiliki sekolah.

C. Kerjasama Sekolah dengan Masyarakat Terorganisasi
Pada saat ini sangat banyak masyarakat yang mengikat dirinya dalam satu kelompok organisasi, baik yang bersifat organisasi social, organisasi profesi, organisasi untuk community tertentu yang bersifat kedaerahan maupun organisasi yang mementingkan laba. Dari berbagai organisasi tersebut di atas banyak sekali yang sangat peduli terhadap pendidikan, tetapi tidak sedikit juga organisasi yang menjadi stressor bagi dunia pendidikan.
Di sadari bahwa peranan oragnisasi-organisasi tersebut sangat besar peranannya dalam membantu pendidikan apabila diberdayakan secara optimal untuk pendidikan secara murni. Beberapa oraganisasi yang memfokuskan dirinya terhadap pendidikan antara lain:
1. Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI)
2. Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia (ISMAPI)
3. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
4. Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia
5. Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKINS)
6. Gerakan nasional Orang Tua Asuh (GN OTA)
7. Himpunan Masyarakat Psikologi Indonesia (HIMAPSI)
8. Kelompok Budayawan, Seni Tari dan Musik.
9. Dan lain-lain
Organisasi tersebut sangat besar manfaatnya apabila sekolah mampu menjadikannya sebagai mitra bagi pengembangan dan peningkatan mutu sekolah. Sebagai contoh: kalau sekolah ingin meningkatkan bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah yang berkualitas, maka Ikatan sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia yang ada di masing-masing daerah dapat dimanfaatkan sebagai mitra, baik dalam pengembangan konsep, implementasi kegiatan maupun dalam pembinaan sehari-hari. Hal yang sama juga dapat dilakukan kerjasama dengan kelompok seni tari, misalnya kalau sekolah menyelenggarakan ekstra kurikuler seni tari musik atau drama.
Sangat mungkin suatu sekolah pada masa sekarang ingin meningkatkan peran guru di samping sebagai pengajar juga sebagai pembimbing. Untuk meningkatkan kemampuan guru tersebut sekolah dapat bekerja sama dengan asosiasi bimbingan (ABKINS), atau juga dengan HIMAPSI (himpunan Masyarakat psikologi Indonesia).
Dalam kenyataan sehari-hari sering terjadi organisasi masyarakat melaksanakan kegiatannya justeru menggunakan sekolah sebagai sasarannya, seperti pengabdian masyarakat mereka tentang penyuluhan NARKOBA, hal ini harus dimanfaatkan oleh sekolah sebagai peluang dalam pembinaan siswa di sekolahnya. Oleh sebab itu tidak salah kalau sekolah selalu memprogramkan berbagai kegiatan tersebut sebagai upaya meningkatkan mutu di sekolah (pemahaman mutu disini bukan sekedar nilai UAN).















LEMBAR TUGAS

1. Bagaimana kaitan hubungan sekolah dengan masyarakat dengan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, coba anda diskusikan dan analisis secara berkelompok ?
2. Buat susunan redaktor pelaksana koran sekolah, dan rencana isi koran sekolah yang akan diterbitkan.
3. Coba anda diskusikan kalau seandainya anda kepala sekolah beserta dewan guru akan menyelenggarakan pembagian raport di akhir semester melalui orang tua murid. Bagaimana prosedur yang baik dalam pembagian raport tersebut agar benar-benar dapat mencapai sasaran. Kondisi sekolah anda termasuk yang tidak menonjol dalam prestasi akademik dan beberapa siswa bermasalah dengan kemampuan akademik dan perilaku kedisiplinan.
4. Coba anda diskusikan instrument yang akan digunakan dalam kegiatan kunjungan ke rumah. Hal pokok yang diinginkan sekolah dalam kunjungan ke rumah adalah bagaimana meningkatkan peran serta masyarakat terhadap sekolah.
5. Coba rumuskan isu-isu strategis, yang perlu dibangun dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat terhadap sekolah saudara. Tema yang ingin dicapai di sekolah adalah: peningkatan mutu pendidikan, peningakatan akses pendidikan, pengurangan angka Drop Out (DO).
6. Buatlah program promosi sekolah secara lengkap, mulai dari panitia sampai pada isi yang akan dipromosikan, siapa dan bagaimana mempromosikannya.
7. Coba anda kaji bersama kelompok anda apa yang menjadi special events pada saat ini untuk dapat dijadikan dasar penyusunan program di sekolah dalam meningkatkan peran serta masyarakat terhadap pendidikan.
8. Buat analisis sebagai berikut:
a. Rumuskan gejala-gejala yang nampak sebagai masalah di sekolah saudara masing-masing dan ada hubungannya dengan peran serta masyarakat/orang tua murid terhadap pendidikan anak-anaknya di sekolah.
b. Rumuskan akar masalah berdasarkan gejala-gejala yang Nampak tersebut.
9. Buat program hubungan sekolah dengan masyarakat, dalam rangka peningkatan peran serta masyarakat terhadap pendidikan di sekolah dengan kondisi sekolah saudara masing-masing (pilih salah satu kondisi sekolah anggota kelompok saudara untuk dijadikan studi kasus)



DAFTAR PUSTAKA

Ace Suryadi (1991). Indikator Mutu dan Efisiensi Pendidikan SD Di Indonesia (Laporan Analisis Tahap Awal). Jakarta : Balitbangdikbud, Pusat Informatika.
Ahmad Suriansyah (1987). Mutu Pendidikan di SLTP Kalsel “Analisis Partisipasi Orang Tua Murid dalam Pendidikan. Banjarmasin
Ahmad Suriansyah, (2001). Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. Diktat Bahan Kuliah pada Program Studi Administrai Pendidikan, FKIP Unlam. Banjarmasin: FKIP Unlam
Ahmad Suriansyah., Amka. (2002). Panduan Manajemen Berbasis Sekolah Di Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Selatan.
Bambang Siswanto. (1992). Humas, Teori dan Praktek. Jakarta: Bina Aksara
Brownwll,. C.L., Gans, L., Maroon T.Z. (1955). Public Relation In Education. New York: Mc Grow Hill Book Company, Inc.
Gorton, R.A. (1977). School Administration. Wm. Mc Grow Company Publisher, Dubuque, Iowa.
Husen, T. (1975). Learning Society. Trans. Miarso (Ed) (1988). Jakarta : Rajawali Pers.
Kumars, D. (1989). Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Tinggi suatu Perbandingan di Beberapa Negara. Jakarta : Depdikbud, Dikti, P2LPTK.
Pidarta, M. (1988). Manajemen Pendidikan Indonesia. Edisi Pertama, Jakarta : Bina Aksara.
Pramudya Sunu, (1999). Peran SDM dalam Penerapan ISO 9000. Jakarta: Grasindo
Roem, T., Mansour Fakih., Toto Rahardja (Penyunting). (2000). Merubah Kebijakan Publik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Rosady Ruslan, (2002). Manajemen Humas dan Komunikasi: Konsepsi dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sallis, Edward. 1993) Total Quality Management in Education. London: Bidles Ltd, Guildford and Kings Lynn.
Soleh Soemirat, Elvinaro Ardianto. (2002). Dasar-dasar Public Relations. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Stewart L.Tubbs., Sylvia Moss. (terjemahan). (2000). Human Communication. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sudarwan Danim, (2002). Inovasi Pendidikan dalam upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Sukardi, (2001) Budaya Mutu dan Prospek Penerapannya Dalam Sekolah, Dalam Dinamika Pendidikan Nomor 2/Th.VIII Nopember 2001: Yogjakarta: FIP UNY.
Torsten Husen. (1988). Masyarakat Belajar. Jakarta: Pusat Antar Universitas Terbuka bekerjasama dengan CV. Rajawali Pers.
Triguno, (1977). Budaya Kerja. Jakarta: PT. Golden Terayon Press.